Page 643 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 643

Aprilia menilai kemarahan yang muncul dari masyarakat menyusul pengesahan UU Cipta Kerja
              merupakan  hal  yang  wajar,  karena  pembuat  legislasi  telah  mengacuhkan  pelbagai  aspirasi
              selama ini.



              LBH: RAKYAT KINI DIABAIKAN DPR DAN PEMERINTAH

              Jakarta -  Tim Advokasi untuk Demokrasi dari  LBH Jakarta  , Aprilia Lisa menilai pelbagai suara
              dan  aspirasi  masyarakat  sudah  diabaikan  pemerintah  dan  DPR  dalam  proses  pembahasan
              omnibus law  Undang-undang (UU) Cipta Kerja yang diketok DPR kemarin.

              Aprilia menilai kemarahan yang muncul dari masyarakat menyusul pengesahan UU Cipta Kerja
              merupakan  hal  yang  wajar,  karena  pembuat  legislasi  telah  mengacuhkan  pelbagai  aspirasi
              selama ini.
              "Mereka  mengacuhkan  suara  rakyat.  Dan  marah  itu  ekspresi  ketika  mereka  sebagai  warga
              negara  yang  punya  hak.  Mereka  sebagai  warga  negara  yang  harus  dibela  oleh  DPR  dan
              pemerintah,  namun  pada  saat  proses  omnibus  law  dibuang  jauh-jauh,"  kata  Aprilia  dalam
              konferensi pers secara daring, Selasa (6/10).

              Aprilia menilai masyarakat yang ingin melaksanakan aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja
              sudah  dijamin  dalam  konstitusi.  Oleh  karena  itu,  pihaknya  berpandangan  aparat  tak  perlu
              menghalang-halangi kebebasan hak menyatakan pendapat dari para buruh tersebut.
              Lebih lanjut, Ia memandang kelompok buruh dan elemen masyarakat lain sudah mengerti risiko
              yang terjadi bila melakukan aksi demonstrasi di tengah pandemi. Namun, Aprilia menyatakan
              situasi di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

              Masyarakat yang menolak, kata dia, pasti memikirkan sesuatu yang lebih luas akan dampak
              buruk dari materi UU Ciptaker yang telah disahkan itu.

              "Dan mereka pasti berpikir, bagaimana anak saya bisa bersekolah nanti? Bagaimana tanah adat
              saya ke depan? Bagaimana agar bumi tetap sehat dan terhindar dari bencana? itu yang bikin
              mereka turun ke jalan," kata Aprilia.

              Sementara  itu,  Koordinator  Badan  Pekerja  KontraS  Fatia  Maulidiyanti  menyatakan  DPR
              melanggar prinsip HAM dengan tak melibatkan partisipasi publik dalam pembahasan RUU Cipta
              Kerja selama ini.

              "Itu dilakukan diam-diam dan bertentangan dengan prinsip HAM yang tak pertisipatif. DPR telah
              melakukan  keputusan  dan  langkah  yang  bertentangan  dng  kepentingan  publik  dan  tak
              mewakilkan rakyat sendiri," kata Fatia.

              Lebih  lanjut,  Fatia  memandang  penyelenggaraan  aksi  demonstrasi  di  tengah  pandemi
              menimbulkan dilema tersendiri. Meskipun demikian, alasan pandemi juga tak dibenarkan bagi
              aparat untuk menggugurkan kebebasan publik untuk menyuarakan aspirasinya.

              Ia lantas mencontohkan banyak negara-negara lain yang rakyatnya menggelar aksi demonstrasi
              di tengah pandemi saat negara mengalami kegentingan mendesak.

              "Ini  bisa  diatasi  oleh  cara-cara  tertentu.  Dan  tak  perlu  sampai  mengeluarkan  telegram  oleh
              Kapolri untuk melarang buruh berdemonstrasi," kata dia.

              Untuk    diketahui,   Kapolri   Jendral   Idham     Aziz   menerbitkan    telegram    nomor
              STR/645/X/PAM.3.2./2020 tertanggal 2 Oktober 2020 lalu. Beberapa poin telegram itu meminta
              agar jajaran kepolisian tidak mengizinkan kegiatan demo buruh pada 6-8 Oktober 2020.
                                                           642
   638   639   640   641   642   643   644   645   646   647   648