Page 646 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 646

harus  dikawal  dengan  ketat.  Aturan  baru  tersebut  tidak  boleh  merugikan  program  pensiun
              pekerja.
              Direktur  Eksekutif  Perkumpulan  DPLK  Syarifudin  Yunus  menilai  bahwa  disahkannya  Undang-
              Undang (UU) Cipta Kerja merupakah realitas legislatif yang telah terjadi. Namun, dampaknya
              bagi industri DPLK baru terlihat setelah  draft  resmi diundangkan.

              Menurutnya, penyusunan aturan turunan, baik berupa Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan
              Presiden  (Perpres)  terkait  program  pensiun  dan  pesangon  pekerja  harus  dikawal  dengan
              seksama agar tidak menjadi petaka bagi persiapan pensiun para pekerja.

              "Menurut saya aturan turunan itu harusnya mengatur pendanaan pesangon oleh pemberi kerja,
              sehingga tidak jadi masalah di pekerja. Selama ini memang kesadaran pemberi kerja juga masih
              harus ditingkatkan, baik soal pensiun maupun pesangon," ujar Syarif kepada  Bisnis  , Selasa
              (6/10/2020).

              Dia menilai bahwa UU Cipta Kerja tersebut harus mengaitkan perlindungan para pekerja dengan
              program pensiun dan pesangonnya. Saat ini, meskipun secara prinsip masih terdapat pemberian
              manfaat pesangon, tetapi nilainya telah menurun.

              Mulanya,  berdasarkan  UU  13/2003  tentang  Ketenagakerjaan,  pekerja  akan  mendapatkan
              pesangon senilai 32,2 kali upah, tetapi dalam UU Cipta Kerja nilainya turun menjadi maksimal
              25  kali  upah.  Pembayaran  itu  pun  19  kalinya  ditanggung  pemberi  kerja  dan  6  lainnya  dari
              program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

              "Kita perlu menunggu aturan turunan dari UU Cipta kerja, seperti apa? Secara industri dana
              pensiun,  intinya  program  pensiun  seperti  DPLK  masih  sangat  diperlukan  untuk  pekerja  di
              manapun, karena faktanya tidak lebih dari 6% pekerja di Indonesia yang sudah punya program
              pensiun," ujarnya.

              Terlepas dari berapapun besaran pesangon, Syarif menilai bahwa pemberi kerja harus memiliki
              kesadaran  untuk  "mendanakan"  secara  terpisah  pesangon  itu  ke  lembaga  yang  kompeten,
              seperti DPLK. Hal tersebut agar tidak terdapat masalah di kemudian hari soal pesangon pekerja,
              baik karena pensiun atau PHK.

              "Justru pemerintah seharusnya fokus pada penerapan pesangon, apakah tiap perusahaan sudah
              mendanakan? Sehingga pada saat diperlukan dananya memang tersedia. Problem pesangon kan
              selama ini karena ketersediaan dana," ujarnya.



























                                                           645
   641   642   643   644   645   646   647   648   649   650   651