Page 638 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 638

Yogyakarta -  Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (  UGM  ) Zaenal Arifin
              Mochtar menyatakan penolakan terhadap RUU  Omnibus Law Cipta Kerja  perlu diiringi dengan
              desakan atau tekanan dari publik secara meluas karena tak sedikit pihak yang dirugikan dari
              peraturan tersebut.

              "Saya menawarkan bahwa kita harus teriakkan bersama UU ini. Pembangkangan sipil barangkali
              atau  apa  istilahnya,  silakan  dipikirkan  itu,"  tegas  mantan  Direktur  Pukat  FH  UGM  ini,  dalam
              konferensi pers virtual, pada Selasa (6/10).

              Zaenal  menegaskan  bahwa  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja  merugikan  banyak  kalangan
              masyarakat  dan  lingkungan,  menguntungkan  investor,  mengabaikan  HAM  serta  terlalu
              sentralistik. Tidak sedikit kewenangan pemerintah daerah yang hilang dan menjadi kewenangan
              pemerintah pusat.

              Menurutnya,  desakan  publik  perlu  disampaikan  terus-menerus  meski  tanpa  tanda  tangan
              Presiden Jokowi, RUU tersebut akan otomatis berlaku setelah 30 hari disahkan di rapat paripurna
              DPR.

              "Walaupun tidak akan berefek apa-apa karena setelah 30 hari itu tetap akan menjadi UU, tetapi
              paling  tidak  ada  pernyataan  politik Presiden  yang  bisa  menjadi  catatan kuat  diproses ketiga
              (pengesahan)," tegasnya.
              Zaenal  mengatakan  proses  penyusunan  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja  cacat  formil.  Sudah
              bermasalah sejak penyusunan, pembahasan hingga disahkan di DPR karena tidak melibatkan
              partisipasi publik secara maksimal.

              Apalagi, draf akhir dari RUU tersebut juga tidak dibagikan kepada anggota DPR usai disahkan di
              rapat paripurna.

              "Jadi paripurna itu seperti paripurna cek kosong," ujar pakar Hukum Tata Negara ini.

              Zaenal mengatakan ada langkah yang bisa diambil untuk menggagalkan RUU Omnibus Law Cipta
              Kerja, yakni dengan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Itu bisa dilakukan jika
              RUU Omnibus Law sudah resmi diundangkan.

              "Pilihan terakhir tentu saja  judicial review  yang harus dilakukan, karena UU ini secara nyata
              menunjukkan  bahwa  pemerintah  dan  DPR  berjalan  membelakangi  partisipasi  publik,"  kata
              Zaenal.
              Sementara itu, Dekan FH UGM, Sigit Riyanto juga menilai proses penyusunan hingga pengesahan
              RUU Cipta Kerja menjadi UU itu mengesampingkan berbagai masukan dari akademisi maupun
              para pemangku kebijakan.

              "Artinya,  deliberasi  (musyawarah)  dari  pembuatan  UU  yang  sekarang  kita  hadapi  ini
              menunjukkan  ada  masalah,  dan  perlu  direspon  secara  kritis  dengan  harapan  kita  bisa
              memperbaiki kekurangan yang ada," ucapnya.

              (sut/bmw).












                                                           637
   633   634   635   636   637   638   639   640   641   642   643