Page 784 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 784

Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah,  meyakini  disahkan  RUU  Cipta  Kerja  bertujuan  untuk
              memperluas penyediaan lapangan kerja, bukan memperluas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).


              UU CIPTA KERJA DINILAI PRODUK DEMOKRASI KAPITALISME

              Konfederasi  Serikat  Pekerja  (KSP)  BUMN  mencibir  terbentuknya  Rancangan  Undang-Undang
              (RUU) Omnibus Law  Cipta Kerja  yang telah disahkan menjadi Undang-Undang (UU) oleh DPR
              RI pada Senin, 5 Oktober 2020 kemarin.
              Sekretaris Jenderal KSP BUMN Achmad Yunus menyatakan, ada beberapa pasal di RUU  Cipta
              Kerj a yang dinilai memberatkan para buruh dan pekerja. Ketidakjelasan ini semakin menguat
              lantaran kelompok serikat pekerja yang dibawahinya saat ini belum mendapatkan lampiran sah
              aturan baru tersebut.
              "Cluster ketenagakerjaan  memberikan  ketidakpastian  hukum,  banyak  catatan  dan saya tidak
              hapal  betul  pasal-pasalnya,  karena  sedang  tidak  pegang  dokumennya,"  ujar  Yunus  kepada
              Liputan6.com  , Senin (6/10/2020).

              Secara  garis  besar,  KSP  BUMN  disebutnya  sepakat  dengan  kelompok  buruh/pekerja  lainnya,
              bahwa  UU    Cipta  Kerja  bakal  melemahkan  posisi  tenaga  kerja,  dan  justru  memperkuat
              perusahaan pemberi kerja.

              "Intinya, kami sependapat dengan organisasi yamg lain bahwa disahkannya RUU ini menjadi UU
              mengkonfirmasi bahwa demokrasi kita dibangun dari, untuk dan oleh kapitalisme," tegasnya.

              Namun secara sikap, Yunus mengatakan, KSP BUMN memilih untuk tidak ikut melakukan aksi
              mogok kerja nasional sebagai bentuk protes terhadap pengesahan UU  Cipta Kerja  .

              "Cuman khusus pekerja BUMN kita tidak boleh ikut mogok seperti yang lain. Kekecewaan dan
              penolakan itu telah terwakili," ungkap Yunus.
              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah,  meyakini  disahkan  RUU  Cipta  Kerja  bertujuan  untuk
              memperluas penyediaan lapangan kerja, bukan memperluas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

              "Sangat prematur apabila secara tergesa-gesa kita menyimpulkan bahwa RUU Cipta Kerja akan
              rentan terhadap PHK pekerja/buruh. Padahal semangat yang dibangun dalam RUU Cipta Kerja
              ini  justru  untuk  memperluas  penyediaan  lapangan  kerja,"  kata  Ida  dalam  keterangannya  di
              Jakarta, Selasa (6/10/2020).

              Selain  itu,  dengan  disahkannya  RUU  Cipta  Kerja  ini  diklaim  bisa  meningkatkan  kualitas
              perlindungan bagi pekerja/buruh, utamanya perlindungan bagi pekerja/buruh yang mengalami
              PHK melalui program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

              Untuk meyakinkan para pekerja/buruh untuk menerima RUU Cipta Kerja agar tujuan utama RUU
              memulihkan ekonomi tercapai, Pemerintah melakukan dua hal penting.

              Pertama,  mengintensifkan  dialog  dengan  pemangku  kepentingan,  utamanya  unsur
              pekerja/buruh  dan  pengusaha  dengan  dibantu  jejaring  kementerian/lembaga  terkait  serta
              pemerintah daerah, khususnya dinas-dinas yang membidangi urusan ketenagakerjaan di daerah.

              Kedua,  segera  menyusun  peraturan  pelaksanaan  UU  Cipta  Kerja  dalam  bentuk  Peraturan
              Pemerintah  dan  peraturan  lain  dibawahnya  untuk  meyakinkan  kepada  pekerja/buruh  bahwa
              amanat pelindungan terhadap hak-hak pekerja/buruh sebagaimana diatur dalam UU Cipta Kerja
              dapat segera dijalankan.


                                                           783
   779   780   781   782   783   784   785   786   787   788   789