Page 782 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 782

panjang hingga 64 kali rapat parlemen dan terbuka secara publik melalui siaran langsung oleh
              TV parlemen, media digital, dan media sosial termasuk Youtube.


              MENAKER MINTA MASYARAKAT BACA UTUH ISI UU CIPTA KERJA

              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengajak semua masyarakat, khususnya para
              pekerja  dan  pengusaha  untuk  membaca  secara  utuh  isi  Undang-Undang  Cipta  Kerja  atau
              Omnibus Law  Cipta Kerja yang sudah disahkan melalui paripurna DPR, Senin (5/10/2020). Hal
              itu penting untuk menjawab kesalahpahaman yang beredar di publik.

              "Saya mengajak masyarakat untuk kembali melihat isi dari semua Undang-Undang Cipta Kerja.
              Jangan biarkan distorsi informasi itu berjalan. Lihat kembali, pahami dengan baik, baca dengan
              tenang, saya kira ini kuncinya," ungkapnya dalam Morning Talk: Manfaat UU Cipta Kerja Bagi
              Pekerja yang disiarkan di  BeritaSatu TV  , Selasa (6/10/2020).

              Pemerintah, kata Ida, akan terus menyampaikan kepada masyarakat seluruh isi undang-undang,
              sehingga kekhawatiran di publik terbantahkan. Menurutnya, proses pembahasan UU ini cukup
              panjang hingga 64 kali rapat parlemen dan terbuka secara publik melalui siaran langsung oleh
              TV parlemen, media digital, dan media sosial termasuk Youtube.

              Terkait tidak dilibatkannya pekerja dalam pembahasan di parlemen, menurutnya hal itu sudah
              sesuai  dengan  ketentuan  di  mana  dalam  undang-undang  disebutkan  bahwa  pembahasan
              dilakukan oleh DPR dan pemerintah. Meski begitu, pemerintah berada dalam posisi terbuka atas
              aspirasi para pekerja.

              "Proses penyampaian aspirasi disampaikan ketika sebelum pembahasan itu terjadi dan sedang
              terjadi, tetapi tidak ikut sama-sama membahas karena yang berhak membahas undang-undang
              itu DPR dan pemerintah. Lalu dimana ruang masyarakat? Itu ketika draf disusun, masyarakat
              diberikan  kesempatan  menyampaikannya  ke  DPR.  Yang  penting  membuka  diri  untuk
              mendialogkan dan menyusun bersama aturan teknisnya," jelas Ida.

              Sementara  menyangkut  anggapan  bahwa  UU  Cipta  Kerja  mempermudah  tenaga  kerja  asing
              (TKA) masuk ke RI, dia berpendapat hal itu tidak benar. Pasalnya, UU Cipta Kerja memperkuat
              undang-undang  existing  Nomor 13 Tahun 2003 dengan mengacu pembatasan penggunaan
              TKA. Pembatasan meliputi hubungan kerja, kompetensi, jabatan tertentu, dan waktu tertentu.
              "Jadi, sebenarnya ketentuannya sudah sangat ketat dan tetap kita atur di Undang-Undang Cipta
              Kerja ini," kata Ida.

              Ida juga membantah tudingan bahwa UU Cipta Kerja akan mengeksploitasi alam. Begitupun
              dengan sanksi yang akan dihilangkan. "Sanksi ke perusahaan yang abai terhadap ketentuan
              ketenagakerjaan tetap mengacu pada UU Nomor 13/2003, jadi tidak benar bahwa ketentuan
              sanksi pidana maupun administrasi dihapus dalam Undang-Undang Cipta Kerja," tegas Ida.
              Terkait  pesangon  apabila  terjadi  Pemutusan  Hubungan  Kerja  (PHK),  pemerintah  ingin
              memastikan hak para pekerja dapat diterima dengan baik. Sebab selama ini di UU Nomor 13
              Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, kompensasi yang tertulis untuk pekerja tinggi, namun
              dalam praktiknya jauh berbeda.
              Bahkan  ada  manfaat  baru  yang  diberikan  ke  pekerja  yang  mengalami  PHK  yaitu  jaminan
              kehilangan  pekerjaan.  Korban  PHK  dapat  menerima  pelatihan  vokasi  dan  akses  penempatan
              kembali  untuk  bekerja.  "Karena  yang  dibutuhkan  teman-teman  saat  mengalami  PHK  adalah
              bagaimana dia masih punya bekal untuk mencari pekerjaan baru," pungkas dia.

              Sumber:BeritaSatu.com.

                                                           781
   777   778   779   780   781   782   783   784   785   786   787