Page 778 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 778

INI TANGGAPAN PRESIDIUM KAMI TERKAIT DISAHKANNYA UU CIPTA KERJA YANG
              KINI TUAI GELOMBANG DEMO BURUH
              DPR RI telah mengesahkan Rencana Undang-Undang Cipta Kerja melalui Rapat Paripurna, Senin
              (5.10/2020) malam. Kini RUU Cipta Kerja yang sudah sah menjadi  UU Cipta Kerja  itu menulai
              gelombang demo atau unjuk rasa buruh di berbagai daerah.

              Menanggapi hal itu, Presidium  Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia  (  KAMI  )  Din Syamsuddin
              mengatakan,  pengesahan    UU  Cipta  Kerja    berpotensi  menimbulkan  kegaduhan  besar  di
              Indonesia.

              Menurut  Din,  dilansir  dari  Kompas.com,  pemerintah  dan  DPR  terlalu  tergesa-gesa  dalam
              mengesahkan UU tersebut. Hal itu disampaikan Din melalui surat terbuka untuk Presiden Joko
              Widodo, Senin (5/10/2020) malam.

              "UU Ciptaker atau  Omnibus Law  Ciptaker sangat potensial menimbulkan kegaduhan nasional
              yang besar," kata Din.

              "Pemerintah  tidak  menyadari  dan  bahkan  terkesan  mendukung  DPR  untuk  bergesa-gesa
              mengesahkannya pada waktu malam hari, tanpa membuka ruang bagi aspriasi rakyat," lanjut
              dia.

              Selain  UU Cipta Kerja  ,  KAMI  juga menyoroti rancangan UU Haluan Ideologi Pancasila (HIP)
              yang sempat menuai kegaduhan publik.Din pun mempertanyakan apakah pemerintah benar-
              benar ing in mencegah kegaduhan di Indonesia.

              "Walaupun sudah digugat oleh organisasi masyarakat, seperti NU, Muhammadiyah, MUI dan
              banyak lagi karena dinilai merendahkan Pancasila, namun masih termaktub dalam Prolegnas,"
              ucap dia.
              Diberitakan sebelumnya, RUU Cipta Kerja telah disahkan DPR dan pemerintah sebagai UU dalam
              rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/10/2020). Ketua Badan Legislasi
              (Baleg) DPR, Supratman Andi Agtas, dalam pemaparannya di rapat paripurna menjelaskan RUU
              Cipta Kerja dibahas melalui 64 kali rapat sejak 20 April hingga 3 Oktober 2020.

              RUU Cipta Kerja terdiri atas 15 bab dan 174 pasal.

              "Baleg bersama pemerintah dan DPD telah melaksanakan rapat sebanyak 64 kali: 2 kali rapat
              kerja,  56  kali  rapat  panja,  dan  6 kali  rapat  timus/timsin  yang  dilakukan mulai  Senin  sampai
              Minggu, dimulai pagi hingga malam dini hari," ujar Supratman.

              "Bahkan masa reses tetap melakukan rapat baik di dalam maupun luar gedung atas persetujuan
              pimpinan DPR," tambahnya.

              Pemerintah yang diwakili Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan  UU
              Cipta Kerja  diperlukan untuk meningkatkan efektivitas birokrasi dan memperbanyak lapangan
              kerja.

              Menurutnya,  UU Cipta Kerja  akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah.

              "Kita  memerlukan  penyederhanaan,  sinkronisasi,  dan  pemangkasan  regulasi.  Untuk  itu
              diperlukan    UU  Cipta  Kerja    yang  merevisi  beberapa  undang-undang  yang  menghambat
              pencapaian tujuan dan penciptaan lapangan kerja. UU tersebut sekaligus sebagai instrumen dan
              penyederhanaan serta peningkatan efektivitas birokrasi," ujar Airlangga.




                                                           777
   773   774   775   776   777   778   779   780   781   782   783