Page 775 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 775

Dia menambahkan, dalam RUU Cipta Kerja disebutkan bahwa pemerintah akan membantu para
              karyawan  yang  terkena  Pemutusan  Hubungan  Kerja  (PHK)  dengan  memberikan  berbagai
              pelatihan kerja.

              Selain  itu,  jika  belum  mendapatkan  pekerjaan,  maka  pemerintah  akan  memberikan  bantuan
              berupa uang tunai, yang akan dibayarkan selama enam bulan oleh BPJS Ketenagakerjaan.

              "Melaui UU Cipta Kerja, pemerintah hadir untuk membantu para karyawan yang di-PHK. Kalau
              belum  dapat  kerja,  mereka  akan  dapat  bantuan  berupa  gaji  dari  BPJS  Ketenagakerjaan,
              formatnya adalah asuransi," papar Airlangga.

              Menurut dia, selama ini, belum pernah ada jaminan terhadap tenaga kerja yang terkena PHK.
              Sehingga, dia merasa masyarakat perlu menerima tujuan baik pemerintah melalui UU Ciptaker.

              "Ini yang belum pernah terjadi. Sebelumnya hanya ada jaminan kematian, jaminan kecelakaan
              kerja, dan jaminan hari tua. Siapa yang menjamin apabila terjadi PHK?," tegas Airlangga.

              Airlangga juga memastikan cuti hamil dan cuti haid di RUU Cipta Kerja tidak dihapus. Pekerja
              wanita tetap bisa memanfaatkan cuti tersebut di waktu yang dibutuhkan.

              Menurut dia, cuti tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

              "Jadi  (UU)  Cipta  Kerja  tidak  menghapus  cuti  haid  dan  cuti  hamil  yang  sudah  diatur  dalam
              Undang-Undang Ketenagakerjaan," kata Airlangga.

              Selain  itu,  menurut  dia,  salah  satu  cara  untuk  menyediakan  lapangan  pekerjaan  sebanyak-
              banyakan adalah dengan menarik investasi baik dalam maupun luar negeri.

              Namun permasalahan yang seringkali ditemui adalah masih banyak aturan yang tumpang tindih
              dan mempersulit.

              "Namun tantangan terbesar adalah bagaimana kita mampu menyediakan lapangan kerja dengan
              banyaknya aturan atau hiper regulasi kita memerlukan penyederhanaan sinkronisasi," ucap dia.

              Atas dasar itu, kehadiran UU ini dianggap bisa menjadi solusi. Karena dengan adanya UU ini bisa
              menghapus dan menyederhanakan UU yang mempersulit investasi.
              "Untuk  itulah  diperlukan  UU  Cipta  Kerja  yang  mengubah  atau  merevisi  beberapa  UU  yang
              menghambat pencapaian tujuan dan penciptaan lapangan kerja. UU tersebut sekaligus sebagai
              instrumen dan penyederhanaan serta peningkatan efektivitas birokrasi," jelas Airlangga.

              Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN)
              Raden Pardede menanggapi polemik atas pengesahan RUU Cipta Kerja. Khususnya menyangkut
              soal pengurangan pesangon bagi tenaga kerja dari 32 kali menjadi 25 kali.

              Menurut dia, rencana pemotongan pesangon dalam RUU sapu jagat itu justru menjadi jalan
              tengah antara kepentingan pengusaha dan pekerja atau buruh. Mengingat nilai pesangon bagi
              pekerja di Indonesia termasuk tinggi di dunia.

              "Pemotongan pesangon dari 32 kali mungkin menjadi 25 kali, apa itu seperti menjadi kerugian
              buat  pekerja?  mungkin  iya.  Tapi,  kita  termasuk  paling  tinggi  dalam  pesangon  dibandingkan
              negara lain. Oleh karena itu, kita cari jalan tengah untuk meringankan beban pengusaha," kata
              dia.

              Pardede menilai keputusan untuk melakukan pemangkasan pemberian pesangon menjadi 25 kali
              juga dinilai masih menguntungkan bagi buruh.


                                                           774
   770   771   772   773   774   775   776   777   778   779   780