Page 786 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 786

Judul               Deretan Masalah Tenaga Kerja di RI Sebelum UU Cipta Kerja
                Nama Media          cnnindonesia.com
                Newstrend           Omnibus Law
                Halaman/URL         https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201006133200-532-
                                    554935/deretan-masalah-tenaga-kerja-di-ri-sebelum-uu-cipta-kerja
                Jurnalis            redaksi
                Tanggal             2020-10-06 16:30:00
                Ukuran              0
                Warna               Warna
                AD Value            Rp 17.500.000
                News Value          Rp 52.500.000
                Kategori            Dirjen PHI & Jamsos
                Layanan             Korporasi
                Sentimen            Negatif



              Ringkasan

              Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru saja mengesahkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law
              Cipta Kerja (Ciptaker) pada Senin (5/10). Aturan itu menimbulkan kontroversi karena banyak
              pihak tak setuju, khususnya dari kaum buruh.  Serikat pekerja menganggap UU Omnibus Law
              Cipta Kerja seakan lebih buruk dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003
              tentang Ketenagakerjaan.  Namun, nyatanya masalah ketenagakerjaan juga menumpuk dengan
              sebelum UU Omnibus Law Cipta Kerja disahkan. Dengan kata lain, undang-undang itu juga tak
              sepenuhnya  bisa  melindungi  pekerja.  Berdasarkan  catatan    CNNIndonesia.com    Masalah
              ketenagakerjaan juga datang dari karyawan PT Alpen Food Industry (AFI) produsen es krim
              merek Aice terkait dengan PHK karyawan.



              DERETAN MASALAH TENAGA KERJA DI RI SEBELUM UU CIPTA KERJA

              Dewan Perwakilan Rakyat (  DPR  ) baru saja mengesahkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law
              Cipta Kerja (  Ciptaker  ) pada Senin (5/10). Aturan itu menimbulkan kontroversi karena banyak
              pihak tak setuju, khususnya dari kaum buruh.

              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan ada sejumlah poin
              yang  mengurangi  kesejahteraan  buruh  dalam  UU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja.  Beberapa  poin
              tersebut, antara lain pengurangan pesangon dari 32 kali menjadi 25 kali, penghapusan upah
              minimum sektoral kota/kabupaten (UMSK), dan soal perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

              Serikat  pekerja  menganggap  UU Omnibus Law Cipta  Kerja  seakan lebih  buruk dibandingkan
              dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

              Namun, nyatanya masalah ketenagakerjaan juga menumpuk dengan sebelum UU Omnibus Law
              Cipta Kerja disahkan. Dengan kata lain, undang-undang itu juga tak sepenuhnya bisa melindungi
              pekerja.

              Berdasarkan catatan  CNNIndonesia.com  , pembayaran pesangon dan pemutusan hubungan
              kerja (PHK) menjadi salah satu masalah yang cukup sering terjadi. Contohnya, eks karyawan PT


                                                           785
   781   782   783   784   785   786   787   788   789   790   791