Page 816 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 816

SERIKAT BURUH INTERNASIONAL TURUT KRITISI OMNIBUS LAW UU CIPTA KERJA

              Pengesahan  Omnibus  Law  RUU  Cipta  Kerja  menjadi  undang-undang  oleh  DPR,  Senin
              (5/10/2020), diwarnai sejumlah protes dari masyarakat, teurutama para buruh dan pekerja.

              Mereka  menuntut  agar  undang-udang  ini  dibatalkan  karena  banyak  memuat  aturan  yang
              merugikan para buruh atau pekerja.

              Selain  gelombang  protes  dari  dalam  negeri,  sejumlah  organisasi  buruh  internasional  juga
              mengkritisi aturan tersebut. Salah satunya Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC).
              Disebut bisa meningkatkan kemiskinan  Melalui laman resmi  ITUC  , Sekretaris Jenderal, Sharan
              Burrow mengatakan  UU Cipta Kerja  yang baru saja disahkan DPR RI bisa menggangu terhadap
              program Sustainable Development Goals atau pembangunan berkelanjutan yang digagas oleh
              Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
              "Undang-undang  yang  luas  dan  kompleks  ini  merupakan  serangan  terhadap  Tujuan
              Pembangunan  Berkelanjutan  PBB  (SDGs)  oleh  pemerintah  Indonesia.  Ini  akan  sangat
              meningkatkan  kemiskinan  dan  menyebabkan  kerusakan  lingkungan  demi  menenangkan
              perusahaan multinasional," sebut Burrow.

              Di  sisi  lain,  keputusan  yang  diambil  di  tengah  peliknya  penanganan  pandemi  Covid-19  di
              Indonesia juga menjadi sorotan tersendiri.

              Pemerintah disebut semakin menyulitkan masyarakat, dan justru hanya akan menguntungkan
              pihak asing.

              "Sungguh  mengejutkan  bahwa  ketika  Indonesia,  seperti  negara  lain,  tengah  menghadapi
              pukulan  akibat  pandemi  Covid-19,  pemerintah  justru  bisa  lebih  mempersulit  kehidupan
              masyarakat dan menghancurkan mata pencaharian mereka (dengan UU Cipta Kerja) sehingga
              perusahaan asing dapat mengambil kekayaan dari negara," ungkap dia.

              Di dalam UU Cipta Kerja di antaranya disebutkan adanya ketentuan yang akan memotong upah
              pekerja, menghapus ketentuan cuti tertentu, dan merusak keamanan kerja.

              Skala, kompleksitas, dan isi dari UU tersebut bahkan dikatakan sebagai pelanggaran tanggung
              jawab menurut hukum HAM internasional.
              "Penghapusan hak-hak tenaga kerja, mencabut perlindungan lingkungan, privatisasi listrik, dan
              ketentuan  lain  dalam  undang-undang,  termasuk  pendidikan  akan  berdampak  buruk  pada
              keluarga dan rumah tangga, menghambat transisi ke energi terbarukan, dan menaikkan harga
              listrik," jelas Burrow.

              Menyerukan untuk dicabut  Burrow menambahkan, menyerahkan kendali pada perusahaan asing
              bukanlah cara memulihkan ekonomi dan ketahanan yanng diperlukan di tengah pandemi, di
              negara dengan dampak terparah di Asia Timur ini.
              ITUC  menyerukan  pemerintah  Indonesia  segera  mencabut  undang-undang  kontroversial  ini,
              kemudian  mengadakan  diskusi  dengan  serikat  pekerja  untuk  membahas  setiap  perubahan
              ketentuan ketenagakerjaan yang dibuat.

              Selain  organisasi  buruh,  organisasi  lingkungan  yang  dengan  keras  menentang  UU  ini  salah
              satunya adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

              Mengutip  pemberitaan    Kompas.com    sebelumnya,  Ketua  Desk  Politik  Walhi,  Khalisa  Khalid
              mengatakan,  pihaknya  menyesalkan  sikap  DPR  dan  pemerintah  yang  meloloskan  RUU  ini
              menjadi UU.
                                                           815
   811   812   813   814   815   816   817   818   819   820   821