Page 819 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 819

Salah satu bab dalam UU Cipta Kerja yang disoroti adalah mengenai ketenagakerjaan. Kaum
              buruh merasa beleid ini berpihak ke pemodal dan 'menghisap' para pekerja.
              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan pihaknya bersama
              puluhan serikat buruh lainnya akan melakukan mogok nasional mulai 6 hingga 8 Oktober 2020.

              Dalam aksi mogok nasional, buruh menyuarakan tolak omnibus law RUU Cipta Kerja, antara lain
              tetap ada UMK tanpa syarat dan UMSK jangan hilang, dan nilai pesangon tidak berkurang.

              Selain  itu,  tidak  boleh  ada  PKWT  atau  karyawan  kontrak  seumur  hidup,  tidak  boleh  ada
              outsourcing seumur hidup, waktu kerja tidak boleh eksploitatif, cuti dan hak upah atas cuti tidak
              boleh  hilang,  karyawan  kontrak  dan  outsourcing  harus  mendapat  jaminan  kesehatan  dan
              pensiun.

              "Sementara itu, terkait dengan PHK, sanski pidana kepada pengusaha, dan TKA harus tetap
              sesuai dengan isi UU No 13 Tahun 2003," tegas Iqbal melalui keterangan tertulisnya.

              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menegaskan bahwa proses penyusunan UU
              Cipta Kerja atau omnibus law sejatinya telah melibatkan partisipasi publik.

              Baik  unsur  pekerja  atau  buruh  yang  diwakili  serikat  pekerja/serikat  buruh,  pengusaha,
              kementerian atau lembaga, praktisi dan akademisi dari perguruan tinggi serta lembaga lainnya,
              seperti International Labour Organization (ILO).

              "Rumusan klaster ketenagakerjaan yang ada dalam RUU Cipta Kerja saat ini merupakan inti sari
              dari  hasil  kajian  pakar/ahli,  focus  group  discussion  (FGD),  Rembug  Tripartit  (pemerintah,
              pekerja/buruh dan pengusaha) yang sejak lama dilakukan atas beberapa materi ketenagakerjaan
              yang krusial," ujar Ida.

              Berikut pasal-pasal kontroversial dalam Bab Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja:  Pasal 59  Pasal 59
              tidak mengatur batas waktu Perjanjian Kerja  Waktu Tertentu (PKWT). Padahal dalam Undang-
              undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan diatur PKWT terhadap pekerja maksimal
              dilakukan selama dua tahun dan hanya boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu paling
              lama satu tahun.

              Dalam Bab Ketenagakerjaan Pasal 59 Ayat 4 UU Cipta Kerja disebutkan ketentuan lebih lanjut
              mengenai jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaan, jangka waktu, dan batas waktu perpanjangan
              PKWT diatur dalam Peraturan Pemerintah.
              Pasal 79  Pasal 79 Ayat 2 dalam Bab Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja menyebutkan pekerja atau
              buruh paling sedikit mendapatkan waktu istirahat mingguan satu hari untuk enam hari kerja
              dalam satu Minggu.

              Sedangkan  dalam  UU  Ketenagakerjaan  diatur  pekerja  atau  buruh  mendapatkan  istirahat
              mingguan satu hari untuk enam hari kerja dalam satu minggu atau dua hari untuk lima hari kerja
              dalam satu minggu.

              Pasal  88    Pasal  88  Ayat  3  dalam  Bab  Ketenagakerjaan  UU  Cipta  Kerja  menyebut  kebijakan
              pengupahan meliputi tujuh komponen, antara lain upah minimum, struktur dan skala upah, upah
              kerja lembur, upah tak masuk kerja dan atau tidak melakikan pekerjaan karena alasan tertentu,
              bentuk dan cara pembayaran upah, hal-hal yang dapat dperhitungkan dengan upah, dan upah
              sebagai dasar perhitungan atau pembayaran hak dan kewajiban lainnya.
              Adapun  ketentuan  lebih  lanjut  mengenai  kebijakan  pengupahan  diatur  dengan  Peraturan
              Pemerintah.



                                                           818
   814   815   816   817   818   819   820   821   822   823   824