Page 822 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 822

menerima  banyak  masukan  dari  Panja  DPR  sehingga  menghasilkan  perubahan  rumusan
              ketentuan dalam klaster ketenagakerjaan


              Ringkasan

              Ratusan elemen buruh dari berbagai organisasi seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
              (KSPI) dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Surabaya, mendesak pemerintah
              dan DPR mencabut Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (  UU Cipta Kerja  ).  Selain berorasi dari
              atas mobil komando dan membagikan selebaran terkait pernyataan sikap penolakan terhadap
              UU Cipta Kerja  , para buruh juga membawa tujuh poin tuntutan.

              Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah,  menegaskan  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  telah
              dijalankan  secara  Tripartit  dan  sesuai  dengan  kesepakatan  antar  pihak  yang  terkait.  Dia
              menuturkan, Pemerintah menegaskan bahwa proses penyusunan RUU Cipta Kerja sejatinya telah
              melibatkan  partisipasi  publik,  baik  unsur  pekerja/buruh  yang  diwakili  serikat  pekerja/serikat
              buruh,  pengusaha,  kementerian/lembaga,  praktisi  dan  akademisi  dari  perguruan  tinggi  serta
              lembaga lainnya, seperti International Labour Organization (ILO).



              DESAK CABUT UU CIPTA KERJA, BURUH JATIM BAWA TUJUH POIN TUNTUTAN

              Ratusan elemen buruh dari berbagai organisasi seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
              (KSPI) dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Surabaya, mendesak pemerintah
              dan DPR mencabut Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (  UU Cipta Kerja  ).

              Selain berorasi dari atas mobil komando dan membagikan selebaran terkait pernyataan sikap
              penolakan terhadap  UU Cipta Kerja  , para buruh juga membawa tujuh poin tuntutan.

              "Ayo kita bersama-sama memperjuangkan nasib kita ke depan. Tanggal 8 besok harus lebih
              banyak perwakilannya," ujar salah seorang koordinator dari mobil komando di depan kantor
              DPRD Jatim, Selasa (6/10/2020).

              Sementara itu, Juru Bicara KSPI Jatim, Nurudin Hidayat mengatakan, agenda aksi menolak UU
              Cipta Kerja dimulai 6 Oktober 2020 di berbagai daerah di Jawa Timur (Jatim).
              "Sesuai kesepakatan serikat buruh, aksi hari ini dipusatkan di daerah masing-masing kabupaten
              maupun kota. Mulai dari kawasan industri untuk mensosialisasikan bahwa tanggal 8 kita mogok
              massal mendesak pemerintah dan DPR mencabut  UU Cipta Kerja  ," ujar Nurudin.

              Nurudin berharap, aksi pada 8 Oktober 2020 bisa diikuti seluruh elemen buruh di Jatim. Selain
              itu, pihaknya juga terus konsolidasi dengan elemen lain termasuk elemen mahasiswa. "Kami
              memperluas  konsolidasi  bersama  elemen  rakyat  lainnya.  Karena  Omnibuslaw  ini
              menyengsarakan seluruh lapisan rakyat," ujar dia.
              Berikut ini tujuh poin tuntutan buruh pada UU Cipta Kerja:


              1. UMK Dibuat Bersyarat  Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dibuat bersyarat memerhatikan
              laju inflasi atau pertumbuhan ekonomi dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK)
              dihapus dalam RUU Cipta Kerja.

              2. Pesangon Dikurangi Menjadi 25 Kali Upah  Buruh menolak pengurangan nilai pesangon dari
              32 kali upah menjadi 25 kali upah yang mana 19 bulan dibayar pengusaha dan 6 bulan dibayar
              BPJS  Ketenagakerjaan. Kita  patut  mempertanyakan  dari  mana  BPJS  mendapat  sumber  dana


                                                           821
   817   818   819   820   821   822   823   824   825   826   827