Page 823 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 823

untuk membayar pesangon?, kemungkinan dana tersebut akan dipotongkan dari upah kita setiap
              bulannya untuk iuran pesangon.
              3. Kontrak Kerja Seumur Hidup  Jika kontrak kerja (PKWT) dilakukan tanpa ada batasan waktu
              dan jenis pekerjaan yang boleh dikontrak, maka dapat dipastikan pekerja/buruh yang bekerja
              puluhan tahun lamanya jika terPHK tidak akan mendapatkan pesangon.

              4.  Baru  Dapat  Kompensasi  Jika  Minimal  Bekerja  Selama  1  Tahun    Dalam  RUU  Cipta  Kerja
              disebutkan, buruh kontrak yang mendapat kompensasi adalah yang memiliki masa kerja minimal
              1 tahun. Pertanyaannya, bagaiamana kalau pengusaha hanya mengontrak buruh di bawah satu
              tahun?, semisal 6 bulan sekali atau 3 bulan sekali kontrak kerjanya. Berarti buruh kontrak tidak
              akan mendapatkan konpensasi.

              5.  Outsourcing  Seumur  Hidup  dan  Tanpa  Batasan    Dalam  peraturan  sebelumnya  (UU  No.
              13/2003) penggunaan tenaga kerja outsourcing hanya dibatasi untuk jenis-jenis pekerjaan yang
              bersifat  penunjang  saja.  Namun,  dalam  RUU  Cipta  Kerja  ini  batasan-batasan  tersebut
              dihilangkan, sehingga semua jenis pekerjaan dapat dialihkan kepada pihak ketiga. Tentu hal
              tersebut tidak memberikan kepastian jenjang karir dalam perusahaan.

              6. Waktu Kerja yang Eksploitatif  Waktu kerja dalam RUU Cipta Kerja diatur lebih fleksibel untuk
              pekerjaan paruh waktu menjadi paling lama 8 jam per hari atau 40 jam per minggu. Sedangkan
              untuk  pekerjaan  khusus  seperti  di  sektor  migas,  pertambangan,  perkebunan,  pertanian  dan
              perikanan dapat melebihi 8 jam per hari.

              7. Tidak Ada Hak Cuti  Cuti haid dan melahirkan bagi pekerja perempuan hilang, karena hak
              upahnya atas cuti tersebut hilang. Cuti panjang dan hak cuti panjang juga hilang.

              Sebelumnya,  Dewan  Perwakilan  Rakyat  (DPR)  RI  mengesahkan  Rancangan  Undang-Undang
              Cipta Kerja menjadi Undang-Undang (UU). Kesepakatan tersebut dicapai dalam sidang pripurna
              pembicaraan tingkat II atas pengambilan keputusan terhadap RUU tentang Cipta Kerja.
              Wakil  Ketua  DPR,  Aziz  Syamsuddin  mengatakan,  dari  sembilan  fraksi,  enam  diantaranya
              menerima RUU Cipta Kerja untuk disahkan menjadi UU. Kemudian 1 fraksi menerima dengan
              catatan, dan dua diantarang menolak.

              "Mengacu pada pasal 164 maka pimpinan dapat mengambil pandangan fraksi. Sepakat? Tok!,"
              kata dia dalam sidang rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2020.

              Mewakili pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyambut
              baik dan mengucapkan terima kasih, apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
              ketua dan wakil ketua panitia kerja RUU Cipta Kerja, badan legislatif, legislasi DPR, yang telah
              melakukan  proses  pembahasan  dengan  berbagai  pandangan  masukan  dan  saran  yang
              konstruktif.

              "Alhamdulillah sore ini undang undang tersebut diketok oleh DPR," kata dia.

              Sebelumnya, Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Supratman Andi Agtas mengatakan, rapat kerja
              Badan Legislasi (Baleg) DPR dengan pemerintah telah menyepakati Rancangan Undang-Undang
              (RUU) Cipta Kerja untuk disetujui menjadi Undang-Undang (UU) dalam Rapat Paripurna.

              "RUU Cipta Kerja disetujui untuk pengambilan keputusan di tingkat selanjutnya," kata Supratman
              saat  memimpin  rapat  kerja  pengambilan  keputusan  tingkat  I dengan  pemerintah  di  Jakarta,
              Dalam rapat tersebut sebanyak tujuh fraksi melalui pandangan fraksi mini fraksi telah menyetujui
              yaitu  Partai  Demokrasi  Indonesia  Perjuangan,  Partai  Golkar, Partai  Gerindra,  Partai  Nasdem,
              Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan.


                                                           822
   818   819   820   821   822   823   824   825   826   827   828