Page 529 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 APRIL 2021
P. 529
Dalam surat tersebut besaran disebutkan THR keagamaan diberikan kepada pekerja/buruh yang
telah mempunyai masa kerja satu bulan secara terus menerus, atau lebih.
Selain itu, THR juga diberikan kepada pekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan
pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) alias pegawai tetap dan
perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) atau karyawan kontrak.
Dari sisi besaran, bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus
menerus atau lebih diberikan THR sebesar satu bulan upah.
Sementara itu, bagi pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja satu bulan tapi kurang dari 12
bulan, maka THR diberikan secara proporsional.
Perhitungan THR proporsional adalah masa kerja dibagi dengan 12, lalu dikali satu bulan upah.
Sebagai contoh, karyawan A bekerja di perusahaan selama tiga bulan, dengan upah per bulan
sebesar Rp6 juta.
Dengan demikian, tiga bulan dibagi 12, lalu dikalikan Rp6 juta. Maka, THR proporsional yang
diperoleh pekerja/buruh tersebut sebesar Rp1,5 juta.
Sementara itu, bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, maka upah
satu bulan dihitung berdasarkan dua perhitungan.
Pertama, pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, maka upah satu bulan
dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya
keagamaan.
Menaker mewajibkan perusahaan untuk membayarkan THR tersebut H-7 Lebaran.
"THR merupakan pendapatan non upah yang wajib dibayar pengusaha kepada pekerja atau
buruh paling lama tujuh hari sebelum hari raya keagamaan tiba," kata Ida.
(ulf/bir).
528

