Page 41 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 41

terdapat 84,9 juta pekerja dengan upah dibawah UMP, maka pada 2020 angka ini melonjak
              menjadi 96,5 juta pekerja.
              Katup Pengaman

              Pandemi  memukul  keras  usaha  modern,  membuat  sebagian  besar  dari  mereka  mengalami
              disrupsi usaha, jatuhnya omset dan penerimaan, krisis likuiditas, hingga penutupan usaha secara
              permanen. Jatuhnya mobilitas dan daya beli masyarakat memukul sektor formal-modern dengan
              keras. Selain pariwisata, sektor formal yang terpukul paling keras adalah industri pengolahan
              dan  konstruksi.  Antara  Agustus  2019  -  Agustus  2020,  jumlah  tenaga  kerja  di  sektor  formal
              industri pengolahan turun hingga 1,5 juta orang dan di sektor formal konstruksi lebih dari 0,9
              juta orang.

              Dengan tenaga kerja tidak terampil yang berlimpah, sektor formal manufaktur dan konstruksi
              berperan  penting  dalam  menyediakan  lapangan  kerja  yang  luas.  Pandemi  membuat  peran
              keduanya dalam mendapatkan pekerjaan formal menurun signifikan. Kejatuhan terbesar terjadi
              di  daerah-daerah  penopang  metropolitan  utama  yang  menjadi  pusat  industri  manufaktur
              nasional  antara  lain  daerah  penopang  Jakarta  (Kab.  Tangerang,  Kab.  Bekasi,  Kab.  Bogor),
              Bandung  (Kab.  Bandung,  Kab.  Cianjur),  Medan  (Kab.  Deli  Serdang)  dan  Semarang  (Kab.
              Grobogan).

              Kelompok ekonomi lemah tidak pernah memiliki kemewahan untuk tidak bekerja, bahkan ketika
              pandemi menghantui. Kemiskinan membuat menganggur menjadi kemustahilan. Menjalankan
              usaha  mandiri  dengan  pekerja  tunggal  (solo  self-employment)  menjadi  jalan  yang  umum
              ditempuh untuk bertahan hidup, menjadi status transisi antara bekerja dan menganggur. Bekerja
              di sektor informal, dengan skala usaha mikro, padat karya dan mengandalkan sumber daya lokal,
              menjadi pilihan ekonomi yang tak bisa dihindari untuk melanjutkan hidup.

              Sepanjang Agustus 2019 - Agustus 2020, sektor informal perkotaan menampung tenaga kerja
              hingga 3,5 juta orang dan sektor informal pedesaan menyerap hingga 3,2 juta orang. Sektor
              informal  perkotaan  terkonsentrasi  di  sektor  perdagangan  dan  reparasi  motor-mobil,  dengan
              tambahan tenaga kerja terbesar dialami oleh Kota Bandung, Kota Semarang dan Kota Surabaya.
              Sedangkan  sektor  informal  pedesaan  terkonsentrasi  di  sektor  pertanian,  dengan  tambahan
              tenaga kerja terbesar diciptakan oleh Kab. Cianjur, Kab. Tasikmalaya dan Kab. Pandeglang.

              Meski mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah besar, namun sektor informal diyakini
              juga  turut  terdampak  pandemi  dengan  signifikan,  terutama  di  perkotaan.  Seiring  restriksi
              pergerakan manusia dan jatuhnya permintaan pasar, sektor informal yang umumnya memiliki
              nilai tambah rendah,juga mengalami kejatuhan penjualan dan kehilangan pelanggan.

              Di Jabodetabek, penurunan tenaga kerja di sektor formal mencapai 1,3 juta orang, namun sektor
              informal hanya mampu menampung tenaga kerja sekitar 0,8 juta orang. Ditambah angkatan
              kerja baru dan bukan angkatan kerja, pengangguran pun bertambah drastis hingga 0,6 juta
              orang, dengan sebagian lainnya diyakini kembali ke kampung halaman.

              Di masa pandemi, hambatan usaha sektor informal terfokus pada jatuhnya permintaan pasar
              dan  hilangnya  pelanggan.  Dibutuhkan  intervensi  permodalan  dan  dukungan  pemasaran  bagi
              sektor  informal  untuk  mengakses  pasar  dan  pelanggan  secara  cepat  dalam  jumlah  yang
              memadai secara berkelanjutan. Lebih jauh, kesulitan sektor informal tidak hanya dari kebijakan
              containment  dan  jatuhnya  mobilitas  masyarakat,  namun  juga  dari  jatuhnya  daya  beli
              masyarakat, terutama kelompok kelas bawah. Menjadi penting dan mendesak bagi pemerintah
              untuk mengintensifkan bantuan sosial kepada kelas ekonomi terbawah, yang terlalu sering tidak
              tepat waktu dan tidak tepat sasaran, dan balikan dikorupsi.



                                                           40
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46