Page 42 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 42

Pertanian dan Mekanisme Survival

              Di setiap krisis, sektor informal terutama di sektor pertanian, menjadi katup pengaman yang
              signifikan.  Mengolah  tanah,  mengambil  sumber  daya  dari  alam,  dan  kembali  ke  kampung
              halaman,  menjadi  mekanisme  bertahan  hidup  (survival)  bagi  banyak  imigran  di  wilayah
              metropolitan, termasuk metropolitan terpenting: Jabodetabek. Antara Agustus 2019 - Agustus
              2020, jumlah tenaga kerja di sektor formal - industri pengolahan Jakarta dan Bodetabek (Bogor,
              Depok, Tangerang, Bekasi) turun berturut-turut 110 ribu dan 466 ribu orang. Di saat yang sama,
              sektor  informal  -  pertanian  Bodetabek  menampung  hingga  103  ribu  tenaga  kerja  baru.
              Mekanisme survival dengan berpindah dari sektor modern ke sektor tradisional ini juga terlihat
              di metropolitan Bandung Raya, dimana tenaga kerja industri pengolahan turun 152 ribu orang
              dan tenaga kerja pertanian bertambah 64 ribu orang.

              Lebih jauh, mekanisme survival dari industri pengolahan ke pertanian tidak hanya terjadi intra
              wilayah, namun juga lintas wilayah, yaitu koridor kota-desa. Banten minus Tangerang mampu
              menampung tambahan tenaga kerja di pertanian hingga 149 ribu orang, dan Jawa Barat minus
              Bogor, Depok, Bekasi dan Bandung Raya, mampu menampung hingga 476 ribu orang. Kuat
              diduga, limpahan pekerja industri manufaktur yang mengalami pemutusan kerja di Jabodetabek
              dan  Bandung  Raya,  yang  tidak  tertampung  sektor  informal  perkotaan,  sebagian  kembali  ke
              pedesaan Banten dan Jawa Barat.

              Dengan peran krusial pertanian, baik di masa normal dan terlebih di masa krisis, selayaknya
              investasi  publik  diprioritaskan  untuk  sektor  ini,  dengan  arah  kebijakan  yang  berpihak  pada
              pertanian  rakyat  di  sektor  informal-tradisional. Kebijakan  pertanian dan  pedesaan  selama  ini
              yang  berfokus  pada  pembangunan  infrastruktur,  kredit  pertanian,  transmigrasi  dan  income-
              generatuig projects skala besar seperti food estate, saatnya ditinjau ulang.

              Masalah fundamental "sang penyelamat krisis" ini adalah tingkat upah riil pertanian yang rendah,
              ketiadaan lahan bagi petani dan ketergantungan petani pada upah sebagai buruh. Karena itu
              arah  kebijakan  utama  seharusnya  adalah  mempertahankan  dan  mengembangkan  pertanian
              skala kecil, terutama di Jawa, dengan fokus kebijakan pada upaya menjamin ketersediaan lahan
              minimum, teknologi tepat guna, sistem pengairan yang terintegrasi, serta manajemen pupuk
              dan hama yang ramah lingkungan.

              Jebakan Upah Rendah

              Ketidakseimbangan pasar tenaga kerja, seperti pengangguran, setengah menganggur dan upah
              rendah, berkontribusi besar pada kemiskinan, karena rendahnya tingkat mobilitas, daya tawar
              dan kapasitas mencari pekerjaan alternatif bagi si miskin. Ketika seseorang hidup dekat pada
              tingkat subsisten, resiko dan biaya psikologis untuk berpindah pekerjaan adalah tinggi relatif
              terhadap pendapatan potensial. Di masa krisis, permasalahan ini memuncak.

              Dalam 2 tahun terakhir, 2019 - 2021, upah riil buruh informal pedesaan dan perkotaan, buruh
              tani  dan  buruh  bangunan,  mengalami  stagnasi,  dengan  kecenderungan  melemah.  Di  masa
              pandemi, semakin banyak tenaga kerja yang terperangkap di sektor yang memberi upah rendah.
              Antara Agustus 2019 - Agustus 2020, tenaga kerja dengan status pekerja bebas di pertanian dan
              non pertanian, terutama buruh tani dan buruh bangunan, bertambah hingga 1,3 juta orang.

              Namun  kebijakan  ketenagakerjaan  di  masa  pandemi  terus  berfokus  pada  pasar  kerja  yang
              fleksibel untuk efisiensi tenaga kerja dan optimalnya investasi Program andalan disini, Kartu Pra-
              Kerja, didesain sebagai pelatihan vokasi sekaligus bantuan sosial. Sasaran utama program yang
              semula para pencari kerja, kemudian ditambahkan dengan korban PHK. Sakernas Agustus 2020
              menemukan program mahal ini salah sasaran dan cenderung berdampak rendah. Dari 3,2 juta
              pendaftar program dan 399 ribu peserta yang lolos, sebanyak 75 persen diantaranya adalah


                                                           41
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47