Page 8 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 8

MENAKER 'NYESAL' RI TAK ADA JAMINAN KORBAN PHK SEBELUM CORONA

              Jakarta  -  Menteri  Ketenagakerjaan  Ida  Fauziyah  mengungkapkan  penyesalannya  karena
              Indonesia belum memiliki program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) bagi pekerja atau buruh
              yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) sebelum pandemi virus corona mewabah
              di tanah air.

              Padahal,  pandemi  covid-19  membuat  banyak  perusahaan  kesulitan  keuangan  sehingga  mau
              tidak  mau  harus  melakukan  PHK  kepada  pekerjanya.  Hal  ini  selanjutnya  melahirkan  banyak
              pengangguran di Indonesia.

              "Saya begitu ada pandemi, saya merasa kenapa kita tidak dari dulu melakukan proses revisi UU
              Nomor 13, UU Nomor 40 dan seterusnya dan baru terasa betapa pentingnya kehadiran program
              ini ketika kita alami pandemi covid-19," ucap Ida dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Rabu
              (7/4).

              Apalagi, sambungnya, dampak pandemi rupanya sangat besar ke sektor ketenagakerjaan karena
              bukan cuma memunculkan satu, dua kasus PHK, tapi jumlahnya mencapai jutaan hanya dalam
              satu waktu.

              "Kita  tidak  memperkirakan  sebegitu  dahsyatnya  dampaknya  pada  sektor  ketenagakerjaan,
              teman-teman alami PHK yang luar biasa tingginya. Andai seharusnya pandeminya bisa tunggu
              UU ini disahkan dulu. Sayangnya kita hanya bisa merencanakan," celotehnya.

              Kendati begitu, Ida berharap rencana pemerintah membentuk program JKP ke depan tetap bisa
              memitigasi kondisi-kondisi PHK luar biasa seperti yang terjadi akibat pandemi saat ini.

              "Mudah-mudahan  tidak  ada  musibah  yang  luar  biasa.  Kalau  pun  ada,  mungkin  Tuhan  kasih
              cobaan lagi, mudah-mudahan kita sudah lebih antisipatif karena sudah ada beberapa langkah
              perlindungan kepada pekerja atau buruh," tuturnya.

              Lebih lanjut, Ida menjelaskan program JKP nantinya akan dijalankan oleh pemerintah dan BPJS
              Ketenagakerjaan  secara  bersamaan.  Namun  ia  memastikan  tidak  akan  ada  tumpang  tindih
              aturan  dalam  pelaksanaannya,  karena  sudah  ada  aturan  tertulis  resmi  dan  tidak  akan
              mengganggu program jaminan sosial lain di BPJS Ketenagakerjaan.

              Yakni, program Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK),
              Jaminan  Kematian  (JKM),  Jaminan  Kecelakaan  Kerja  (JKK),  dan  Jaminan  Kesehatan  (JKN).
              Selanjutnya, program JKP akan memberikan uang tunai kepada korban PHK. Jumlah maksimal
              yang bisa dikantongi mencapai Rp3,5 juta per orang.

              Nominal ini berasal dari formula pemberian dana dengan batas atas upah senilai Rp5 juta. "Batas
              atas Rp5 juta ini sesuai batas penghasilan tidak kena pajak atau PTKP, tapi (batas atas ini) nanti
              akan ada evaluasi per tahun, jadi tidak ajeg Rp5 juta sebagai batas per tahun, setiap tahun akan
              ada kajiannya," jelasnya.

              Sementara untuk formulanya, pemberian uang tunai akan terdiri dari dua pencairan. Pertama,
              sebesar 45 persen dari upah atau maksimal sekitar Rp2,25 juta untuk tiga bulan pertama.

              Kedua, sebesar 25 persen dari upah atau maksimal Rp1,25 juta untuk tiga bulan berikutnya,
              sehingga totalnya bisa maksimal Rp3,5 juta.

              "Manfaat  45  persen  dan  25  persen  ini  penyusunan  normanya  sesuai  standar  ILO  soal  JKP,"
              terangnya.

              Di sisi lain, Ida menekankan JKP hanya untuk pekerja formal yang merupakan penerima upah.
              Sedangkan untuk pekerja informal tidak mendapat JKP.
                                                            7
   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13