Page 287 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 DESEMBER 2021
P. 287

Apalagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan revisi secara sepihak, tanpa pendapat dunia
              usaha. Apindo DKI Jakarta yang menjadi bagian dari Dewan Pengupahan Daerah sebagai unsur
              dunia usaha (pengusaha) merass tidak diajak berpartisipasi.

              Dia  mengimbau,  pengusaha  hanya  perlu  mengikuti  aturan  sebelumnya,  yakni  Keputusan
              Gubernur DKI Jakarta no. 1395 Tahun 2021 yang ditetapkan tanggal 19 November 2021.

              "Jadi kita akan menunggu hasil keputusan PTUN itu dan selama menunggu, maka kami imbau
              seluruh perusahaan di DKI Jakarta tidak menerapkan revisi tersebut, karena sudah melanggar
              ketentuan PP," beber dia, seperti dilansir dari Kompas.com dalam artikel " Anies Revisi UMP,
              Pengusaha: Pelanggaran Jadi Catatan, Apalagi Kalau Mau Nyapres ".

              Lebih  lanjut  dia  meminta  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  untuk  memberi  sanksi
              kepada kepala daerah, dalam hal ini Anies Baswedan, karena telah melawan hukum regulasi
              ketenagakerjaan terutama dalam hal pengupahan.

              Dia pun meminta kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan pembinaan atau
              sanksi kepada Anies karena tidak memahami peraturan perundangan yang berlaku.

              "Karena hal tersebut berpotensi menimbulkan iklim yang tidak kondusif bagi hubungan industrial
              dan perekonomian nasional," pungkas Hariyadi.

              Sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan menaikkan UMP
              DKI Jakarta dari sebelumnya Rp 4.416.186 menjadi Rp 4.641.854.
              Anies  mengatakan,  keputusan  kenaikan  UMP  tersebut  diharapkan  bisa  menaikan  daya  beli
              masyarakat dan tidak memberatkan para pengusaha.

              Kendati begitu, pengusaha menolak kenaikan UMP dan berencana menggugat Anies Baswedan
              ke PTUN setelah Peraturan Gubernur (Pergub) soal revisi upah keluar.

              Pengusaha Khawatir Daerah Lain Tiru Jakarta Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang
              dan Industri (Kadin) Indonesia khawatir kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta
              sebesar 5,1 persen yang diputuskan secara sepihak oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan,
              diikuti oleh provinsi lain.

              Wakil Ketua Umum Kadin bidang ketenagakerjaan Adi Mahfudz Wuhadji mengatakan, saat ini
              sudah ada satu provinsi lain yang melayangkan permintaan serupa.

              Padahal dia menilai, revisi UMP yang dinaikkan Anies dari 0,85 persen menjadi 5,1 persen tidak
              sesuai dengan PP Nomor 36 Tahun 2021.

              "Itu yang kita khawatirkan. Ada satu provinsi yang lain mengikutinya. Dan itu ada implikasi. Ini
              yang kita khawatirkan. Kita ini berpikir Indonesia, tidak DKI saja," kata Adi dalam konferensi
              pers, Senin (20/11/2021).

              Adi menuturkan, revisi upah yang dilakukan Anies membuat bingung para pengusaha. Upah
              yang naik dari ketentuan dinilai berpotensi merusak cashflow perusahaan.


              Ia juga menyebut para investor di perusahaan bakal menganggap ketentuan hukum di Indonesia
              berubah-ubah sehingga mempengaruhi iklim investasi.

              "Investor dan pelaku usaha itu satu kata kunci. Ada kepastian hukum dari pemerintah dalam hal
              ini. Kepastian itu maksudnya tidak berubah-ubah. Dan Pak Anies berubah-ubah," kata Adi.




                                                           286
   282   283   284   285   286   287   288   289   290   291   292