Page 295 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 9 JUNI 2021
P. 295

Menurut  Wapres  Amin  persoalan  ketenagakerjaan  saat  ini  juga  semakin  kompleks.  Angka
              pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi, sementara daya saing atau produktivitas tenaga
              kerja masih rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2021 menunjukkan, terdapat 19,1
              juta tenaga kerja yang terdampak pandemi Covid-19.

              Persoalan tersebut ditambah pula dengan pertumbuhan angkatan kerja baru yang cenderung
              terus meningkat setiap tahun serta minimnya penduduk usia angkatan kerja yang siap pakai
              atau  pernah  mengikuti  pelatihan  kerja.  Kondisi  itu  menyebabkan  terjadinya  ketidaksesuaian
              keterampilan. Tantangan menjadi semakin berat dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0
              dan teknologi digital yang semakin cepat yang mendisrupsi beragam sektor kehidupan, termasuk
              industri dan ketenagakerjaan.

              ”Oleh  karenanya,  afirmasi  kebijakan  pemerintah  yang  melibatkan  berbagai  pemangku
              kepentingan sangat dibutuhkan dalam memitigasi beragam persoalan ketenagakerjaan tersebut
              agar tenaga kerja nasional dapat tetap eksis dan berperan di era persaingan global yang ketat
              ini,” kata Wapres Amin.

              Pemerintah  telah  menetapkan  pembangunan  sumber  daya  manusia  (SDM)  sebagai  program
              prioritas  yang  paling  utama.  Hal  ini  karena  faktor  kualitas  SDM  menjadi  kunci  untuk
              memenangkan persaingan global. Tenaga kerja yang berkualitas akan meningkatkan daya saing
              suatu negara terhadap negara lainnya, baik dari sisi daya tarik investasi maupun produk yang
              dihasilkannya.
              Angka pengangguran yang masih relatif tinggi dan daya saing yang rendah disebabkan, antara
              lain, oleh ketidaksiapan untuk beradaptasi terhadap perubahan dan disrupsi yang mengikutinya.
              ”Untuk itu, diperlukan konsep dan langkah-langkah perbaikan yang cepat, tepat, dan efisien
              sebagai fondasi yang penting untuk bisa bersaing terhadap negara lain di era teknologi digital
              saat ini,” ujar Wapres Amin.

              Guna  mewujudkan  tenaga  kerja  yang  handal,  pemerintah  tidak  bisa  bekerja  sendirian.
              Diperlukan keterlibatan pemerintah daerah, BUMN, swasta, perguruan tinggi, lembaga riset, dan
              organisasi kemasyarakatan, termasuk lembaga keagamaan, seperti pondok-pondok pesantren
              yang tersebar di berbagai pelosok daerah.

              Wapres Amin menuturkan, tantangan nyata yang dihadapi dalam melaksanakan langkah-langkah
              strategis untuk menyiapkan SDM yang mampu bersaing secara global adalah kemampuan di
              bidang teknologi digital, seperti big data (mahadata), artificial intelligence (kecerdasan buatan),
              dan internet of things (serba internet).

              ”Untuk itu, dalam kesempatan yang baik ini saya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh
              jajaran Kemenaker yang sejak tahun 2017 telah bekerja keras mengembangkan program BLK
              komunitas melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga keagamaan, seperti pondok pesantren,
              seminari, dhammasekha, dan pasraman,” kata Wapres Amin.

              Wapres juga mengapresiasi peran OJK yang sejak tahun 2017 terus mendorong pengembangan
              BWM  di  pesantren-pesantren.  Sebagai  lembaga  keuangan  mikro  syariah  yang  terdaftar  dan
              diawasi OJK, BWM didirikan untuk menyediakan akses permodalan bagi masyarakat kecil yang
              belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal serta berperan untuk memberdayakan
              komunitas di sekitar pesantren dengan pola pendampingan.

              ”Melalui konsep yang dikembangkan tersebut, BWM diharapkan dapat secara nyata mendukung
              upaya pemerintah dalam pengentasan kemiskinan. Target nasabah pembiayaan BWM adalah
              masyarakat  miskin  produktif  yang  tidak  dapat  mengakses  lembaga  keuangan  formal,”  kata
              Wapres.


                                                           294
   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300