Page 147 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MARET 2021
P. 147

UPAH BURUH BERLAKU PER JAM, BEGINI KLARIFIKASI KEMENAKER

              JAKARTA - Pemerintah akhirnya melegalkan pengusaha untuk memberikan upah per jam sebagai
              implementasi  Undang  Undang  No  11  tahun  2020  tentang  Cipta  Kerja.  Namun  Pejabat
              Kementerian  Ketenagakerjaan  mengklaim  pemberian  upah  per  jam  itu  hanya  berlaku  untuk
              pekerja paruh waktu dengan waktu kerja tertentu.

              "Jenis  upah  berdasarkan  satuan  waktu  yang  dimaksudkan  untuk  mengakomodir  kebutuhan
              perlindungan bagi pekerja paruh waktu melalui pengaturan upah per jam," kata Pelaksana Tugas
              Direktur  Jenderal  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Jaminan  Sosial  Kemnaker  Tri  Retno
              Isnaningsih dalam acara dialog virtual pada Selasa (2/3).

              Tri menjelaskan, menurut Pasal 16 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang
              Pengupahan, upah per jam hanya hanya dapat diperuntukkan bagi pekerja atau buruh yang
              bekerja  secara  paruh  waktu.  Upah  per  jam  bagi  pekerja  paruh  waktu  menurut  ketentuan
              dibayarkan berdasarkan kesepakatan antara pengusaha dan pekerja.
              Tri Retno menilai PP Nomor 36 Tahun 2021 yang merevisi PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang
              Pengupahan merupakan solusi terhadap pemasalahan pengupahan. Materi PP Nomor 36 ada
              yang  sifatnya  tetap  (mempertahankan  ketentuan  lama)  dan  ada  mengubah  ketentuan  lama
              (menghapus  atau  mengatur  materi  baru).  Sistem  upah  per  jam  akan  mulai  berlaku  setelah
              pemerintah  mengeluarkan  aturan  turunan  PP  Nomor  36  tahun  2021  tentang  Pengupahan
              tertanggal 2 Februari 2021.

              Direktur  Pengupahan  Kemnaker  Dinar  Titus  Jogaswitani  menjelaskan  mengacu  Badan  Pusat
              Statistik  (BPS)  pekerja paruh  waktu  adalah  pekerja  yang  bekerja  kurang  dari  35  jam  dalam
              sepekan atau kurang dari tujuh jam per hari. "Upah per jam itu dibayar atas kesepakatan antara
              pengusaha dengan pekerja atau buruh, di mana dalam menyepakati tersebut tidak boleh kurang
              dari formula upah per jam," kata Dinar.

              Lalu, bagaimana formula upah per jam? Dinar mengatakan dalam peraturan pemerintah yakni
              upah sebulan dibagi 126. Angka 126 itu, Dinar menjelaskan, merupakan rata-rata waktu kerja
              pekerja paruh waktu dalam setahun yaitu 52 minggu dikalikan 29 jam per minggu dibagi 12
              bulan.  Formula  penghitungan  upah  per  jam  dapat  ditinjau  kembali  jika  memang  terjadi
              perubahan signifikan dalam median jam kerja pekerja paruh waktu.

              Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian Ketengakerjaan gencar menyosialisasikan 4 Peraturan
              Pemerintah (PP) sebagai aturan turunan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja klaster
              ketenagakerjaan. Keempat PP tersebut yakni PP Nomor 34 Tahun 2021 tentang Penggunaan
              Tenaga Kerja Asing; PP Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih
              Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja; PP Nomor 36 Tahun
              2021 tentang Pengupahan; dan PP Nomor 37 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Program
              Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

              Tri Retno Isnaningsih menegaskan secara umum kebijakan pengupahan yang diatur dalam UU
              Cipta  Kerja  dan  keempat  PP  meliputi  6  poin.  Pertama,  penetapan  upah  minimum  yang
              proporsional dan implementatif. Kedua, struktur dan skala upah untuk upah yang berkeadilan.
              Ketiga,  jenis  upah  berdasarkan  satuan  waktu  yang  dimaksudkan  untuk  mengakomodasi
              kebutuhan pelindungan bagi pekerja paruh waktu melalui pengaturan upah per jam.

              Keempat,  upah  terendah  bagi  usaha  mikro  dan  kecil  yang  dimaksudkan  untuk  memberikan
              dukungan ketahanan perusahaan yang berada dalam kategori skala usaha tersebut dan di sisi
              lain tetap memberikan pelindungan bagi pekerja/buruh yang bekerja pada skala usaha mikro
              dan  kecil.  Kelima,  penegasan  batas-batas  kewenangan  pemerintah  daerah  terkait  bidang
              pengupahan; "Dan keenam, penguatan eksistensi Dewan Pengupahan, " ujar Tri Retno.

                                                           146
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152