Page 337 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 APRIL 2021
P. 337

ANGGOTA DPR FRAKSI PKS: MUDIK DILARANG, PEMERINTAH HARUS KASIH
              INSENTIF UNTUK SOPIR HINGGA KONDEKTUR

              JAKARTA  -  Anggota  Komisi  V  DPR  RI  dari  Partai  Keadilan  Sejahtera  (PKS)  Toriq  Hidayat
              mengusulkan  dua  insentif  yang  bisa  diberikan  pemerintah  untuk  meringankan  beban  awak
              angkutan akibat dampak larangan mudik Lebaran 2021 pada periode 6-17 Mei 2021.

              "Konsekuensi dari penetapan larangan mudik Lebaran tahun ini, Pemerintah harus meringankan
              beban para awak kendaraan, mulai dari sopir hingga kondektur karena sebagian besar mereka
              adalah pekerja harian. Beban mereka sudah sangat berat sejak pandemi," ujar Toriq Hidayat,
              Rabu  21  April.  Menurut dia,  bantuan  langsung  kepada  para  awak  kendaraan  adalah  insentif
              pertama yang harus diberikan oleh pemerintah. Insentif yang kedua, lanjutnya, diberikan kepada
              pengusaha angkutan umum agar beban usahanya berkurang.

              "Organda  mengusulkan  kepada  Kemenhub  dan  Kemenko  Perekonomian  pemberian  insentif
              kepada pengusaha angkutan umum. Mereka tidak bisa menghindari biaya operasional yang tetap
              keluar seperti perawatan, onderdil, dan gaji pekerja," paparnya.


              Ia mengusulkan Pemerintah memperkuat kebijakan ekonomi untuk meringan beban kredit yang
              dimiliki pengusaha operator bus yakni aturan mengenai aturan pemberian keringanan cicilan
              bagi nasabah bank melalui POJK Nomor 48 /POJK.03/2020. Sebelumnya, Ketua Bidang Advokasi
              dan  Kemasyarakatan  Masyarakat  Transportasi  Indonesia  (MTI)  Pusat  Djoko  Setijowarno
              menyatakan  bahwa  perusahaan  sektor  transportasi  Antar  Kota  Antar  Provinsi  (AKAP)  perlu
              dibantu untuk dapat memberikan THR kepada pegawai mereka.

              "Pemerintah dapat membantu memberikan bantuan langsung tunai pengemudi angkutan umum
              bus AKAP," kata Djoko Setijowarno.

              Menurut Djoko, untuk pengusaha sektor transportasi darat AKAP perlu ada semacam skema
              bantuan. Hal itu, ujar dia, karena pengemudi bus AKAP kerap tidak mendapat gaji bulanan tetapi
              ada yang hanya dapat upah jika mengemudikan bus, sehingga berarti tidak mengemudikan bus
              maka tidak mendapat upah. Namun, ia juga mengingatkan skema bantuan seperti itu harus
              betul-betul tepat sasaran dan selayaknya berkoordinasi dengan asosiasi resmi seperti Organda.
              Secara terpisah, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauizyah mengingatkan para pengusaha tentang
              denda dan sanksi yang dikenakan jika tidak melakukan kewajiban membayar tunjangan hari raya
              kepada karyawannya.

              "Saya tekankan bahwa THR Keagamaan wajib dibayarkan paling lama tujuh hari sebelum hari
              raya keagamaan pekerja atau buruh yang bersangkutan," kata Menaker.

              Kewajiban pembayaran THR 2021 itu juga diperjelas dengan diterbitkannya Surat Edaran Nomor
              M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun
              2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan yang keluar pada 12 April 2021 dan ditujukan kepada
              para gubernur di seluruh Indonesia.

              Dalam  edaran  itu,  ia  menyatakan  pembayaran  THR  harus  sesuai  dengan  ketentuan
              perundangan-undangan,  yaitu  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan  dan  Peraturan  Menaker  Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari  Raya
              Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

                                                           336
   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341   342