Page 217 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 217

pekerja kontrak atau borongan. Dengan perubahan status itu membuat pemberian upah buruh
              sesuai dengan absensi harian kerjanya.


              POSITIF COVID-19 MEMAKSA DIRI TETAP BEKERJA, BURUH: ISOMAN SAMA AJA
              DIRUMAHKAN TANPA UPAH

              Positif Covid-19 Memaksa Diri Tetap Bekerja, Buruh: Isoman Sama Aja Dirumahkan Tanpa Upah
              Michelle Natalia Senin, 19 Juli 2021 - 13:20 WIB loading.
              Serikat pekerja mengkonfirmasi bahwa banyak buruh positif Covid-19 yang tetap bekerja tanpa
              fasilitas kesehatan yang memadai. Foto/Dok JAKARTA - Melonjaknya kasus positif Covid-19 dari
              klaster buruh menjadi sorotan. Pasalnya, serikat pekerja mengkonfirmasi bahwa banyak buruh
              positif Covid-19 yang tetap bekerja tanpa fasilitas kesehatan yang memadai.
              Ketua Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) Dian Septi Trisnanti mengatakan, saat
              ini banyak perusahaan yang mengubah status buruhnya menjadi pekerja kontrak atau borongan.
              Dengan perubahan status itu membuat pemberian upah buruh sesuai dengan absensi harian
              kerjanya.

              "Kalau mereka tidak masuk kerja, mereka khawatir tidak dapat upah. Dari situlah para buruh
              memaksakan diri untuk tetap bekerja meskipun positif Covid-19, begitu pula dengan pekerja
              kontrak dan borongan," ujar Dian dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (19/7/2021).
              Dia bahkan mengungkapkan, bahwa ribuan anggotanya sudah terpapar Covid-19. "Klaster pabrik
              sangat  agresif,  buruh  TGSL  (tekstil,  garmen,  sepatu,  dan  kulit),  dalam  dua  minggu  saja  di
              Cakung, Tangerang, Subang, dan Solo ribuan anggota kita terpapar," ungkap Dian.

              Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Federasi Serikat Pekerja
              Tekstil,  Sandang,  dan  Kulit  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (FSP  TSK-SPSI)  Dion  Wijaya
              mengatakan,  perubahan  status  pekerja  banyak  dilakukan  perusahaan  kepada  buruh  sejak
              Omnibus Law UU Cipta Kerja disahkan.

              "Dengan status itu, maka semakin tertekan para pekerja garmen khususnya pekerja perempuan.
              Dengan status begitu meski mereka terpapar mereka terpaksa kerja karena dengan status itu
              mereka khawatir nggak dapat upah," jelas Dion.

              Hal yang parah, yakni apabila buruh ketahuan perusahaan terpapar, mereka akan diminta pulang
              untuk isolasi mandiri tanpa mendapatkan fasilitas apapun dari perusahaan.

              "Mereka mungkin bisa bekerja kalau cuma gejala saja belum dicek, tapi yang terpapar itu kalau
              ada yang tes massal disuruh pulang dan isoman. Tapi tanpa ada fasilitas di perusahaan, ini
              muncul problem," paparnya.

              Bahkan, dalam diskusi tersebut, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan
              Kulit Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP TSK-KSPSI) Helmy Salim menyebutkan,
              bahwa  sudah  banyak  bukti  dari  laporan  buruh  di  lapangan  yang  mengaku  bila  harus  isolasi
              mandiri di rumah mereka tak mendapatkan upah.

              Buruh  akan  mengambil  risiko  untuk  tetap  bekerja  selama  gejala  Covid-19  belum  parah  dan
              memilih untuk tidak mendeteksinya, dan apabila dinyatakan positif Covid-19 tidak akan melapor
              kantor.

              "Mereka  memilih  mengambil  risiko,  masuk  meski  sakit,  mereka  pikir  gejala  nggak  seberapa
              kecuali  sudah  parah  banget  baru  mereka  nggak  akan  masuk.  Sudah  banyak  contoh  di
              perusahaan, kalau isoman sama seperti dirumahkan tanpa upah," pungkasnya. (akr).
                                                           216
   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222