Page 248 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 248
tempatnya bekerja sama sekali tidak menerapkan aturan PPKM Darurat. Semua aturan dan
protokol kesehatan tidak ada yang berlaku di pabrik industri tekstil, garmen, sepatu, dan kulit
(TGSL). Ketua Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) Dian Septi Trisnanti
mengatakan banyak pabrik di daerah sentra tekstil masih mempekerjakan pekerjanya 100%.
BURUH BONGKAR PABRIK TEKSTIL TAK TERAPKAN PPKM DARURAT, INI
LOKASINYA
PPKM Darurat telah berlalu lebih dari dua minggu, bahkan ada opsi perpanjangan dilakukan.
Namun, di mata para buruh PPKM Darurat tidak berlaku.
Mereka menilai di pabrik-pabrik tempatnya bekerja sama sekali tidak menerapkan aturan PPKM
Darurat. Semua aturan dan protokol kesehatan tidak ada yang berlaku di pabrik industri tekstil,
garmen, sepatu, dan kulit (TGSL).
Ketua Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) Dian Septi Trisnanti mengatakan
banyak pabrik di daerah sentra tekstil masih mempekerjakan pekerjanya 100%.
Sebagai informasi, dalam aturan PPKM Darurat untuk sektor industri orientasi ekspor dapat
beroperasi dengan kapasitas maksimal dengan 50% staf di fasilitas produksi/pabrik, serta 10%
untuk pelayanan administrasi perkantoran.
"Pada sektor manufaktur TGSL, PPKM nyaris tidak berlaku bagi ratusan ribu atau bahkan jutaan
pekerjanya. Di banyak sentra industri sektor ini misal, Cakung, Tangerang, Subang, Sukabumi,
dan Solo, puluhan pabrik masih beroperasi 100%," ungkap Dian dalam konferensi pers virtual,
Senin (19/7/2021).
Dian mengatakan para pekerja terpaksa untuk tetap bekerja, jika tidak mereka akan kehilangan
pekerjaan. Para pekerja bahkan harus melakukan lembur. Buruknya lagi, protokol kesehatan
sama sekali tidak dilakukan di pabrik.
Untuk hand sanitizer dan fasilitas cuci tangan saja sama sekali tidak disediakan perusahaan.
Belum lagi beberapa fasilitas seperti tes COVID-19 berkala ataupun vitamin untuk menjaga
imunitas para buruh.
"Jutaan pekerja bekerja penuh waktu, bahkan melakukan lembur. Mereka bekerja dalam ruang
tertutup dan padat, tanpa alat pelindung diri baik APD, masker, hand sanitizer, fasilitas mencuci
tangan. Tidak ada juga fasilitas kesehatan memadai seperti klinik, tes COVID-19, atau vitamin
penunjang," papar Dian.
Berlanjut ke halaman berikutnya.
Hal ini pun akhirnya membuat timbulnya klaster pabrik. Sudah ada ribuan buruh TGSL menurut
Dian yang terpapar COVID-19. Pabrik-pabrik sentra industri tekstil sendiri tersebar di Cakung,
Tangerang, Subang, Sukabumi, dan Solo.
"Klaster pabrik menyebabkan klaster hunian. Klaster pabrik terjadi akibat pelanggaran protokol
kesehatan oleh pengusaha yang berlangsung terus tanpa sanksi," tegas Dian.
Pengakuan sama diungkap oleh Ketua Bidang Perempuan dan Anak Serikat Pekerja Nasional
(SPN) Sumiyati, menurutnya selama ini pabrik-pabrik sama sekali tidak punya sensitivitas
terhadap COVID-19. Dia menilai operasional berjalan seperti biasa, menurutnya pengusaha tak
mau mengalah dengan PPKM Darurat.
247

