Page 244 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 244

PPKM Darurat tanggal 3 Juli -2 Agustus 2021 bukanlah pertama. Sejak awal pandemi, pemerintah
              telah berungkali memberlakukan PPKM.
              Namun  kebijakan  PPKM  berlangsung  demikian  longgar,  nyaris  tidak  ada  sanksi  berarti  bagi
              sejumlah pelanggaran PPKM yang berlangsung.

              Di  sisi  lain,  inkonsistensi  kebijakan  PPKM  juga  terjadi  misalnya,  pembatasan  mobilitas
              transportasi  diterapkan,  tetapi  aktivitas  kegiatan  di  beberapa  tempat  (mis  aktivitas  produksi
              pabrik,  persidangan  di  pengadilan  negeri,  dll)  terus  berlangsung  menyebabkan  masyarakat
              seringkali menjadi bingung.

              Pada sektor manufaktur tekstil, garmen, sepatu, dan kulit, PPKM nyaris tidak berlaku bagi ratusan
              ribu atau bahkan jutaaan pekerjanya. Di banyak sentra industri sektor ini misalnya di Cakung,
              Tangerang, Subang, Sukabumi, dan Solo, puluhan pabrik masih beroperasi 100%.

              Para pekerja wajib bekerja, jika tidak mereka akan kehilangan pekerjaan. Jutaan pekerja bekerja
              penuh waktu, bahkan melakukan lembur, dalam ruang tertutup dan padat, tanpa alat pelindung
              diri (APD), masker, hand sanitizer, fasilitas mencuci tangan, dan lain-lain dan fasilitas kesehatan
              memadai  seperti  klinik,  tes  awal,  atau  vitamin  penunjang.  Implementasi  UU  Cipta  Kerja
              memperburuk situasi pekerja.

              Sejak  awal  tahun  2021,  dengan  merujuk  pada UU  Cipta  Kerja,  sejumlah  perusahaan  tekstil,
              garmen,  sandang  dan  kulit  (TGSL)  telah  mengubah  sistem  kerja  dari  pekerja  tetap  menjadi
              pekerja kontrak atau pekerja borongan.

              Pekerja menjadi kehilangan sejumlah fasilitas, termasuk upah tetap karena upah diperhitungkan
              berdasarkan hari kerja dan kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
              (BPJamsosyek).

              Pekerja kontrak dan pekerja borongan akan memaksa diri untuk terus bekerja, walau mengalami
              gejala sakit, karena takut kehilangan upah. "Akibat dari situasi di atas amat jelas klaster pabrik
              termasuk klaster penyebaran Covid-19 yang paling agresif," kata Dian.

              "Data kami serikat pekerja/serikat buruh sektor TGSL menunjukkan hal itu dalam dua minggu
              terakhir saja, ribuan anggota kami di wilayah Cakung, Tangerang, Subang, Sukabumi, dan Solo
              terpapar melalui tempat kerja/pabrik," kata Dian.

              Dikatakan, sebagian besar buruh tinggal di wilayah perumahan padat sehingga menyebabkan
              penghuni perumahan juga terpapar. "Klaster pabrik menyebabkan klaster hunian.

              Ledakan kasus menyebabkan ketidakmampuan fasilitas kesehatan yang ada mengatasi masalah.
              Akibatnya banyak penderita meninggal dunia hanyakarena keterlambatan penanganan akibat
              antrian yang tak tertangani.
              Tanggal 13 Juli 2021, Kemnaker menginisiasi Deklarasi Gotong Royong "Menangkan Indonesia,
              Sekarang".

              Secara  umum,  kata  Dian,  para  pekerja  dan  buruh  bersepakat  dengan  semangat  yang
              disampaikan. Tetapi harus diingat, konflik terjadi akibat pengorbanan pekerja akibat pandemi
              Covid-19, kesehatan fisik dan mental serta ekonomi sudah berada di titik terendah.

              Klaster pabrik terjadi akibat pelanggaran protokol kesehatan oleh pengusaha yang berlangsung
              terus tanpa sanksi.

              Tidak mungkin menyerukan konflik tanpa repatriasi/pemulihan hak-hak pekerja yang terabaikan
              oleh pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha. "Jadi, hentikan viktimisasi terhadap pekerja!"
              kata Dian. Sumber: BeritaSatu.com.
                                                           243
   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249