Page 241 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 241

pelindung diri, dan fasilitas kesehatan memadai seperti klinik, tes awal, atau vitamin. Jika ngotot
              tidak bekerja, ancaman pemutusan hubungan kerja membayangi.
              Kondisi  kerja  para  pegawai  pun  semakin  memprihatinkan  akibat  Undang-Undang  Nomor  11
              tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Pasca beleid itu disahkan, banyak perusahaan yang mengubah
              status kepegawaian dari pekerja tetap menjadi pekerja kontrak atau borongan. Walhasil, sistem
              penggajian pun berubah menjadi sistem harian sehingga karyawan-karyawan tersebut kerap kali
              memaksa diri tetap bekerja agar penghasilan tak berkurang. Selain itu, mereka pun kehilangan
              fasilitas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.

              "Akibat dari situasi di atas amat jelas: klaster pabrik termasuk klaster penyebaran Covid-19 yang
              paling agresif. Data kami serikat pekerja/serikat buruh sektor TGSL menunjukkan hal itu: dalam
              dua  minggu  terakhir  saja,  ribuan  anggota  kami  di  wilayah  Cakung,  Tangerang,  Subang,
              Sukabumi, dan Solo terpapar melalui tempat kerja/pabrik," kata mereka.

              Situasinya  makin  buruk  karena  pegawai  pabrik  kebanyakan  tinggal  di  permukiman  padat
              penduduk. Akibatnya, dari Covid-19 yang menular antar pegawai, bergerak menulari keluarga di
              rumah, kemudian menulari tetangga di lingkungan permukiman.

              Karenanya,  aliansi  tersebut  menuntut  pemerintah  konsisten  dengan  aturan  dan  sanksi  yang
              ditetapkan  pada  masa  PPKM  Darurat.  Mereka  menuntut  pemerintah  memaksa  perusahaan
              memenuhi protokol kesehatan para pekerja, dan memberikan sanksi kepada perusahaan yang
              melanggar.  Mereka  pun  menuntut  APINDO  dan  KADIN  memastikan  seluruh  pekerja
              mendapatkan vaksin Covid-19 gratis.

              Merujuk  pada  aturannya,  seluruh  kantor  non  esensial  wajib  bekerja  100  persen  dari  rumah,
              kantor esensial boleh bekerja di kantor dengan kapasitas maksimal 50 persen, dan hanya kantor
              kritikal yang boleh bekerja di kantor dengan kapasitas 100 persen.

              Adapun cakupan sektor essential antara lain: keuangan dan perbankan, pasar modal, sistem
              pembayaran,  teknologi  informasi  dan  komunikasi,  perhotelan  non  penanganan  karantina
              Covid19, serta industri orientasi ekspor.

              Sementara  cakupan  sektor  kritikal:  energi,  kesehatan,  keamanan,  logistik  dan  transportasi,
              industri  makanan,  minuman  dan  penunjangnya,  petrokimia,  semen,  objek  vital  nasional,
              penanganan bencana, proyek strategis nasional, konstruksi, utilitas dasar (seperti listrik dan air),
              serta industri pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.





























                                                           240
   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245   246