Page 268 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 268

demikian  longgar,  nyaris  tidak  ada  sanksi  berarti  bagi  sejumlah  pelanggaran  PPKM  yang
              berlangsung," ungkap Dian.
              Di  sisi  lain,  sambung  dia,  inkonsistensi  kebijakan  PPKM  juga  terjadi,  misalnya,  pembatasan
              mobilitas transportasi diterapkan, tetapi aktivitas kegiatan di beberapa tempat, seperti aktivitas
              produksi pabrik, persidangan di pengadilan negeri, dan lainnya terus berlangsung, menyebabkan
              masyarakat seringkali menjadi bingung.

              "Akibatnya  sudah  jelas,  intensi  penyebaran  virus  Covid-19  masih  relatif  tinggi.Pada  sektor
              manufaktur TGSL (tekstil, garmen, sepatu, dan kulit), PPKM nyaris tidak berlaku bagi ratusan
              ribu  atau  bahkan  jutaan  pekerjanya.  Di  banyak  sentra  industri  sektor  ini  misal  di  Cakung,
              Tangerang, Subang, Sukabumi, dan Solo, puluhan pabrik masih beroperasi 100%," terang Dian.

              Bahkan, para pekerja wajib bekerja, jika tidak mereka akan kehilangan pekerjaan. Jutaan pekerja
              bekerja penuh waktu, bahkan melakukan lembur, dalam ruang tertutup dan padat, tanpa alat
              pelindung  diri  seperti  APD,  masker,  hand  sanitizer,  fasilitas  mencuci  tangan,  dan  fasilitas
              kesehatan memadai seperti klinik, tes awal, atau vitamin penunjang.

              Implementasi Omnibus Law UU Cipta Kerja No. 11/2020 pun, menurutnya, memperburuk situasi
              pekerja. Sejak awal tahun 2021, dengan merujuk pada UU Cipta Kerja, sejumlah perusahaan
              TGSL telah  mengubah  sistem  kerja  dari pekerja  tetap  menjadi  pekerja kontrak  atau pekerja
              borongan.

              "Pekerja  menjadi  kehilangan  sejumlah  fasilitas,  termasuk  upah  tetap  (karena  upah
              diperhitungkan  berdasarkan  hari  kerja)  dan  kepesertaan  BPJS  Ketenagakerjaan  dan  BPJS
              Kesehatan. Pekerja kontrak dan pekerja borongan akan memaksa diri untuk terus bekerja, walau
              mengalami gejala sakit, karena takut kehilangan upah," jelas Dian.

              Akibat dari situasi di atas amat jelas, klaster pabrik termasuk klaster penyebaran Covid-19 yang
              paling agresif. Data serikat pekerja/serikat buruh sektor TGSL menunjukkan hal itu, dalam dua
              minggu terakhir saja, ribuan anggotaNYA di wilayah Cakung, Tangerang, Subang, Sukabumi,
              dan Solo terpapar melalui tempat kerja/pabrik.

              "Sebagian  besar  anggota  kami  tinggal  di  wilayah  perumahan  padat  sehingga  menyebabkan
              penghuni perumahan juga terpapar. Klaster pabrik menyebabkan klaster hunian. Ledakan kasus
              menyebabkan  ketidakmampuan  fasilitas  kesehatan  yang  ada  mengatasi  masalah.  Akibatnya
              banyak penderita meninggal dunia hanya karena keterlambatan penanganan akibat antrian yang
              tak tertangani," pungkas Dian.



























                                                           267
   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273