Page 270 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 JULI 2021
P. 270

KACAU! BANYAK BURUH TERPAKSA KERJA MESKI POSITIF COVID-19

              Serikat buruh menyampaikan masih banyak anggotanya yang  terkonfirmasi positif COVID-19
              dan terpaksa tetap bekerja. Hal ini terus terjadi apalagi di tengah lonjakan kasus COVID-19.

              Ketua Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) Dian Septi Trisnanti mengatakan saat
              ini banyak perusahaan yang mengubah status buruhnya menjadi pekerja kontrak atau borongan.
              Dengan perubahan status itu membuat pemberian upah buruh sesuai dengan absensi harian
              kerjanya.

              Maka bila tidak masuk kerja mereka khawatir tidak dapat upah. Dari situ lah para buruh memaksa
              diri untuk tetap bekerja meskipun positif COVID-19.

              "Pekerja kontrak dan borongan akan terpaksa tetap bekerja, meski sakit, karena takut kehilangan
              upah. Klaster pabrik sangat agresif, buruh TGSL (tekstil, garmen, sepatu, dan kulit), dalam dua
              minggu saja di Cakung, Tangerang, Subang, dan Solo ribuan anggota kita terpapar," ungkap
              Dian dalam konferensi pers virtual, Senin (19/7/2021).

              Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit Serikat
              Pekerja Seluruh Indonesia (FSP TSK-SPSI) Dion Wijaya mengatakan perubahan status pekerja
              banyak dilakukan perusahaan kepada buruh sejak Omnibus Law UU Cipta Kerja disahkan.

              "Dengan status itu maka semakin tertekan para pekerja garmen khususnya pekerja perempuan.
              Dengan status begitu meski mereka terpapar mereka terpaksa kerja karena dengan status itu
              mereka khawatir nggak dapat upah," kata Dion dalam diskusi yang sama.

              Mirisnya lagi bila buruh ketahuan perusahaan terpapar, dia akan diminta pulang untuk isolasi
              mandiri. Namun, buruh tidak mendapatkan fasilitas apapun dari perusahaan.

              "Mereka mungkin bisa bekerja kalau cuma gejala saja belum dicek, tapi yang terpapar itu kalau
              ada yang tes massal disuruh pulang dan isoman. Tapi tanpa ada fasilitas di perusahaan, ini
              muncul problem," ungkap Dion.

              Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit Konfederasi Serikat Pekerja
              Seluruh Indonesia (FSP TSK-KSPSI) menambahkan sudah banyak bukti dari laporan buruh di
              lapangan yang mengaku bila harus isolasi mandiri di rumah mereka tak mendapatkan upah.

              Buruh akan mengambil risiko untuk tetap bekerja selama gejala COVID-19 belum parah dan
              memilih untuk tidak mendeteksinya. Apabila dinyatakan positif COVID-19 tidak akan melapor
              kantor.

              "Mereka  memilih  masuk  lah  mengambil  risiko masuk  meski  sakit,  mereka  pikir  gejala  nggak
              seberapa kecuali sudah parah banget baru mereka nggak akan masuk. Sudah banyak contoh di
              perusahaan, kalau isoman sama seperti dirumahkan tanpa upah," ungkap Helmy.


















                                                           269
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275