Page 409 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 MEI 2021
P. 409

Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan (SE THR),
              perusahaan-perusahaan  memiliki  peluang  untung  mengurangi  pemenuhan  hak  buruh
              sebagaimana diatur dalam Permenaker 6/2016 tentang THR.



              DIKLAIM RUGIKAN BURUH, INI CATATAN UNTUK PEMERINTAH JOKOWI TERKAIT
              THR LEBARAN 2021

              Federasi  Serikat  Buruh Persatuan  Indonesia  (FSBPI)  menilai  negara  lalai  dalam  mewujudkan
              hubungan  industrial  adil  yang  tampak  jelas  jelang  Lebaran  2021.  Kelalaian  tersebut  sebagai
              protes terhadap penyaluran THR tahun ini yang banyak merugikan bagi karyawan atau buruh.

              Melalui penerbitan Surat Edaran (SE) Menaker Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan
              Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan (SE THR),
              perusahaan-perusahaan  memiliki  peluang  untung  mengurangi  pemenuhan  hak  buruh
              sebagaimana diatur dalam Permenaker 6/2016 tentang THR.

              "SE THR ini telah melimpahkan tanggungjawab pengawasan negara ke perundingan bipartit di
              tingkat perusahaan yang kerap berjalan tak seimbang. Peraturan kebijakan ini telah melegitimiasi
              kinerja malas yang ditunjukkan oleh Pengawas Ketenagakerjaan selama ini," demikian dikutip
              siaran pers bersama Pos Pengaduan THR FSBPI,  Jakarta  , Rabu (12/5).

              Alih-alih  mewajibkan  perusahaan  untuk  menunjukkan  laporan  keuangan  perusahaan  kepada
              pemerintah  sebagai  alasan  objektif  untuk  menunda  pembayaran  THR,  layaknya  skema
              penangguhan pembayaran upah, SE THR menyerahkan sepenuhnya hal tersebut ke perundingan
              bipartit.

              "Timpangnya  posisi  buruh  dan  pengusaha,  telah  menyebabkan  perundingan-perundingan
              bipartit tidak efektif, terlebih bagi pekerja kontrak, harian lepas yang selalu dibayangi ancaman
              PHK jika mencoba menuntut hak," demikian tulis FSBPI.

              Hal ini dapat dilihat dari hasil sementara survei daring FSBPI mengenai pemenuhan hak THR.
              Sejak dimulainya survei per tanggal 29 April 2021, survei ini diisi oleh 123 orang, termasuk di
              antaranya 17 pekerja rumah tangga (PRT) yang hingga kini hak nya sebagai pekerja belum
              mendapat perlindungan hukum dari negara.

              Responden dalam survei ini berasal dari 50 perusahaan dengan 19 sektor usaha ditambah PRT
              yang  berlokasi  di  22  kabupaten/kota  di  Sumatera,  Jawa,  Kalimantan,  Sulawesi,  dan  Nusa
              Tenggara. Berikut hasil temuan sementara dari survei ini 52 persen responden menyatakan hak
              THR tidak dipenuhi sesuai Permenaker 6/2016.

              Di mana keluhannya terdiri dari besaran THR dibayarkan sesuai ketentuan, namun dicicil yang
              menyatakan sebanyak 13,28 persen. Kemudian, THR tidak dicicil, namun besarannya dikurangi
              yang  menyatakan  sebanyak  15,4  persen.  THR  dibayarkan  secara  dicicil  dan  besarannya  jika
              diakumulasikan  kurang  dari  ketentuan  sebanyak  3,3  persen.  THR  hanya  berupa  bingkisan
              sebanyak 2,4 persen. Kemudian tidak mendapat THR sebanyak 17,1 persen.

              Temuan  lainnya  sebesar  93,75  persen  pekerja  yang  mengalami  pelanggaran  hak  THR
              menyatakan tidak pernah memberikan persetujuan kepada perusahaan untuk pengurangan hak
              THR. 92,2 persen menyatakan tidak pernah mengetahui laporan keuangan perusahaan.

              Besarnya  angka  ini  merupakan  gambaran  betapa  timpangnya  posisi  buruh  dan  perusahaan.
              Itikad baik perusahaan untuk menggelar perundingan bipartit dengan buruh adalah hal yang
              begitu sulit ditemukan. Hal ini dapat dikarenakan buruknya penegakan hukum ketenagakerjaan


                                                           408
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414