Page 163 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 163

Ia mengingatkan pengawas ketenagakerjaan di setiap provinsi, jika terdapat perusahaan yang
              tidak mampu membayarkan THR tujuh hari sebelum hari raya, maka harus ada kesepakatan
              tertulis bipartit antara pengusaha dan pekerja untuk jangka waktu pembayarannya.

              Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis juga harus didukung dengan bukti laporan keuangan
              dua  tahun  terakhir  dan  memuat  waktu  pembayaran  THR  Keagamaan  dengan  syarat  paling
              lambat dibayar sehari (H-1) sebelum Lebaran.

              "Dalam hal THR keagamaan tidak dibayar sesuai kesepakatan dan atau kesepakatan pembayar
              THR di bawah ketentuan perundang-undangan, maka pengawas akan melakukan pengawasan
              pelaksanaan pembayaran THR, berupa nota pemeriksaan sampai dengan rekomendasi kepada
              pejabat berwenang pada kementerian/lembaga atau daerah setempat untuk pengenaan sanksi
              administratifnya," jelasnya.

              Pengusaha yang terlambat membayar THR keagamaan wajib membayar denda sebesar 5 persen
              dari total THR yang harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban pengusaha untuk
              membayar.

              Pengusaha yang tidak membayar THR dalam waktu yang ditentukan juga dapat dikenakan sanksi
              administratif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

              Sanksi  tersebut  dapat  berupa  teguran  tertulis,  pembatasan  kegiatan  usaha,  penghentian
              sementara sebagian atau seluruh alat produksi, serta pembekuan kegiatan usaha.

              Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J.
              Supit  menyebut  kalangan  pengusaha  pasrah  bila  nanti  mendapatkan  sanksi  keterlambatan
              pembayaran THR sesuai ketentuan.

              Pasrah karena menurut dia pengusaha di sejumlah sektor masih kesulitan untuk bisa membayar
              THR para karyawannya.

              "Terserah pemerintah, kan katanya ada sanksi. Silakan saja pemerintah yang urus karena ini
              sudah di luar kemampuan kami," katanya, Jumat (7/5).

              Anton menilai aturan yang dikeluarkan Kemenaker tahun ini tidak memberi kesempatan bagi
              perusahaan-perusahaan  di  sektor  yang  secara  operasional  masih  terseok-seok,  seperti
              perhotelan atau transportasi, hingga UMKM.

              "Ini juga bukan kesalahan perusahaan tapi force majeure. Mestinya ini keadaan tidak normal,
              tapi dipaksakan supaya melakukan hal normal (membayar THR penuh)," ujar Anton.

              Dalam Surat Edaran Menaker RI Nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian
              Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2021 Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan, pemerintah
              memberikan kelonggaran bagi perusahaan yang terdampak covid-19.

              Bagi pengusaha yang tidak mampu memberikan THR 2021 sesuai dengan waktu yang telah
              ditentukan atau H-7, pengusaha diharuskan melakukan dialog dengan pekerja. Selanjutnya, hasil
              dialog tersebut harus dilaporkan ke Dinas Ketenagakerjaan setempat.

              Namun,  pengusaha  tetap  harus  membayar  THR  paling  lambat  sehari  sebelum  hari  raya
              keagamaan. Jika terlambat, ada sanksi yang dibebankan kepada pengusaha.
              "SE Menaker tidak memberi peluang bagi yang tidak mampu. Hanya menekankan, bagi yang
              mampu minimal satu minggu sebelum Lebaran harus bayar, yang tidak mampu harus lapor ke
              pemda, tapi paling lambat satu hari sebelum Lebaran harus bayar. Jadi tidak ada kata lain, harus
              bayar," jelasnya.


                                                           162
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168