Page 284 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 284

perusahaan yang dikenakan denda dan sanksi administratif sesuai Peraturan Pemerintah Nomor
              36 tahun 2021 tentang Pengupahan. "Terserah pemerintah, kan katanya ada sanksi. Silakan saja
              pemerintah yang urus karena ini sudah di luar kemampuan kami," kata Anton dihubungi dikutip
              dari Antara di Jakarta, Jumat (7/5/2021).



              BOS KADIN BELA PENGUSAHA YANG TAK KUAT BAYAR THR, NAMUN TAK BISA APA-
              APA, HANYA BISA PASRAH MENUNGGU SANKSI

              Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial, Anton J.
              Supit mengakui pengusaha di sejumlah sektor masih kesulitan untuk bisa membayar Tunjangan
              Hari Raya (THR) penuh bagi para karyawannya.

              Dia  pun  mengaku  pasrah  jika  nantinya  ada  perusahaan  yang  dikenakan  denda  dan  sanksi
              administratif sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan. "Terserah
              pemerintah, kan katanya ada sanksi. Silakan saja pemerintah yang urus karena ini sudah di luar
              kemampuan kami," kata Anton dihubungi dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat (7/5/2021).

              Menurut Anton, berdasarkan keputusan pemerintah melalui Surat Edaran Menaker RI Nomor
              M/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan Pemberian  Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  tahun
              2021  Bagi  Pekerja/Buruh  di  Perusahaan,  pembayaran  THR  harus  sesuai  dengan  ketentuan
              perundangan-undangan,  yaitu  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan  dan  Peraturan  Menaker  Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari  Raya
              Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Bagi  perusahaan  yang  terdampak  Covid-19  dan  tidak  mampu  memberikan  THR  2021  sesuai
              dengan waktu yang telah ditentukan, dalam edaran tersebut mewajibkan pengusaha melakukan
              dialog dengan pekerja untuk mencapai kesepakatan yang dilaksanakan secara kekeluargaan dan
              dengan itikad baik dan berdasarkan laporan keuangan internal.
              Hasil  dari  dialog  tersebut  harus  dilaporkan  ke  Dinas  Ketenagakerjaan  setempat  dengan
              pemberian THR paling lambat dilakukan sehari sebelum hari raya keagamaan. Terdapat sanksi
              bila terlambat atau bahkan tidak membayar THR tersebut.

              "SE Menaker menyebutkan bahwa tidak memberikan peluang bagi yang tidak mampu. Itu hanya
              menekankan, bagi yang mampu minimal 1 minggu sebelum Lebaran harus bayar. Yang tidak
              mampu harus lapor ke pemda, tapi paling lambat 1 hari sebelum Lebaran harus bayar. Jadi tidak
              ada kata lain, harus bayar," katanya.

              Di sisi lain, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meminta pengusaha membayar THR
              secara  penuh  dan  tidak  dicicil.  Ketua  KSPI  Said  Iqbal  mengatakan,  THR  akan  mendorong
              konsumsi  yang  akan  memulihkan  ekonomi  pascapandemi.  "THR  di  swasta  merupakan
              kebahagiaan. Pada saat itu belanja meningkat, purchasing power meningkat maka konsumsi
              pasti meningkat di tengah pandemi ini," katanya saat webinar Narasi Institute yang bertajuk THR
              di kala pandemi, Jumat (7/5/2021).

              Menurutnya, pengupahan THR telah menjadi bagian dari tanggung jawab pengusaha, sebab
              pemerintah telah memberikan stimulus. Dicontohkan, perusahaan multinasional, PT Pan Brothers
              Tbk mengalami permasalahan, di mana puluhan ribu pekerjanya mogok di Boyolali, Jawa Tengah
              karena perusahaan mengumumkan tak mampu membayar THR.

              "Ya  orang  marah  lah,  Anda  perusahaan  Tbk,  Anda  sudah  dapat  stimulus,  Anda  udah  dapat
              keringanan, tapi begitu pembayaran THR belum dibayar. Anda umumkan tiba-tiba perusahaan
              enggak mampu. Ini tentang keadilan sih," jelas Said.


                                                           283
   279   280   281   282   283   284   285   286   287   288   289