Page 362 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 362

UUCK LINDUNGI PEKERJA SAWIT

              Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 (UUCK) dinilai mampu meningkatkan daya saing tenaga
              kerja dan meningkatkan kualitas perlindungan terhadap pekerja termasuk di sektor kelapa sawit.
              UUCK harus dipandang positif karena memperbaiki, menyempurnakan, dan melindungi pihak
              pengusaha maupun pekerja.

              Dirjen  Pembinaan  Pengawasan  Ketenagakerjaan  dan  Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja
              Kementerian Ketenagakerjaan RI Haiyani Rumondang mengatakan, UUCK menjawab masalah
              upah rendah, jam kerja panjang, perlindungan hak pekerja, buruh kerja harian lepas, perjanjian
              kerja waktu tertentu, mencegah pekerja anak, dan melindungi pekerja perempuan dari tindakan
              kekerasan. "Seluruh persoalan tersebut kerap kali diangkat untuk menyerang sawit.

              Kampanye  negatif  sawit  di  sektor  tenaga  kerja  sangat  merugikan  semua  pihak.  Tanpa
              penanganan yang baik, kampanye tadi bisa merusak kontribusi sawit terhadap negara. Padahal,
              peran sawit telah terbukti menyerap 16 juta tenaga kerja," ujarnya dalam seminar Bedah UUCK
              bagi Sawit Borneo Berkelanjutan.

              Karena  itu,  pemerintah  mengajak  pelaku  usaha  dan  buruh  sawit  untuk  bersama-sama
              melaksanakan  UUCK  dan  peraturan  pelaksananya.  Deputi  Bidang  Koordinasi  Pangan  dan
              Agribisnis  Kemenko  Perekonomian  RI  Musdhalifah  Machmud  menyatakan,  perubahan  yang
              tertuang  dalam  UUCK  idealnya  disikapi  positif  oleh  pelaku  usaha  dan  pekerja.  Implementasi
              regulasi akan meningkatkan daya saing Indonesia, kemudahan perizinan, dan membuka peluang
              ekspor. "UUCK akan meningkatkan keberterimaan produk sawit Indonesia di pasar global dan
              memperkuat citra positif sawit berkelanjutan, termasuk dengan menerapkan kewajiban ISPO
              yang telah mengadopsi 12 target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG's) dari 17 target,"
              katanya, kemarin.

              Ketua  Umum  Gabungan  Pengusaha  Kelapa  Sawit  Indonesia  (Gap-ki)  Joko  Supriyono
              mengatakan, industri sawit selama tiga tahun terakhir menghadapi gempuran kampanye negatif
              yang  berkaitan  ketenagakerjaan.  "Semakin  ke  sini  serangan  terhadap  kampanye  semakin
              spesifik. Sekarang, bukan lagi industrinya yang diserang melainkan perusahaan menjadi objek
              kampanye negatif. Kalau dulu, kampanye negatif memakai isu orang hutan dan lingkungan tetapi
              sekarang isunya beralih pekerja perempuan dan anak," ujarnya. Joko menyarankan perlunya
              memanfaatkan  UUCK  untuk  memperbaiki  keadaan  dan  meminimalkan  resiko  atas  kampanye
              tersebut, (tl/ant)






























                                                           361
   357   358   359   360   361   362   363   364   365   366   367