Page 43 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 43

DESAIN SISTEM JAMINAN SOSIAL PERLU DITINJAU ULANG, INI ALASANNYA

              JAKARTA -- Desain sistem jaminan sosial nasional atau SJSN dinilai perlu ditinjau ulang seiring
              masih besarnya masalah kepesertaan, baik terkait jumlah peserta aktif maupun cakupan pekerja
              non formal. Sinergi data dua Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS menjadi kunci.

              Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dari unsur ahli Iene Muliati menjelaskan bahwa
              pihaknya telah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan jaminan sosial
              pada  2020.  Dari  proses  itu,  DJSN  mencatat  sejumlah  poin  evaluasi  dan  memetakan  isu-isu
              strategis pelaksanaan jaminan sosial.

              Berdasarkan pemetaan DJSN, isu kepesertaan masih menjadi sorotan di BPJS Kesehatan dan
              BPJS  Ketenagakerjaan.  Misalnya,  dalam  program  Jaminan  Kesehatan  Nasional  (JKN),
              kepesertaan masih didominasi oleh segmen penerima bantuan iuran (PBI) yang iurannya berasal
              dari kas negara dan masih banyak peserta mandiri berstatus non aktif.

              Iene menjabarkan bahwa rasio peserta non aktif cenderung JKN meningkat setiap tahun. Kondisi
              itu semakin menantang pada 2020 karena terjadi pandemi Covid-19, tekanan ekonomi membuat
              banyak peserta yang tidak mampu atau tidak memilih untuk membayar iuran JKN, sehingga
              menjadi non aktif.

              Di sisi jaminan sosial ketenagakerjaan, DJSN menemukan bahwa terjadi kecenderungan serupa,
              yakni tren peserta non aktif terus meningkat. Selain itu, tingkat kepesertaan masih minim dan
              sebaran peserta aktif pun belum merata.

              "Bisa dilihat bahwa jumlah peserta banyaknya di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa
              Tengah. Di Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, itu cukup tinggi salah satunya
              karena faktor adanya kawasan industri sehingga peserta didaftarkan perusahaan," ujar Iene saat
              menjawab pertanyaan Bisnis dalam paparan monev DJSN, Rabu (5/5/2021).

              Pelaksanaan jaminan sosial ketenagakerjaan pun menghadapi tantangan nilai pembayaran klaim
              yang mendekati perolehan iuran, yakni karena pengajuan klaim meningkat tapi pendapatan iuran
              turun. Lebih rinci, terdapat kenaikan tren klaim jaminan hari tua (JHT) di angkatan kerja yang
              seharusnya masih produktif dan tidak menggunakan dana pensiunnya.

              Menurut  Iene,  dampak  besar  dari  pandemi  Covid-19  tersebut  membuat  pemerintah  perlu
              meninjau ulang desain SJSN. Bahkan, peninjauan itu dinilai harus diiringi reformasi perlindungan
              sosial, yang mencakup bantuan sosial, jaminan sosial, dan jaminan ketenagakerjaan.

              "Perlu  diatur  dalam  tatanan  reformasi  jaminan  sosial,  karena  ini  butuh  reformasi  sistemik,
              terlepas dari UU SJSN, karena sinerginya itu tidak mudah ya. Mengenai bantuan sosial yang
              terlibat ada 11 kementerian, bicara skill [ketenagakerjaan] ada 13 kementerian terlibat, juga
              jaminan sosial, ini ada harmonisasi dan sinergi kebijakan yang perlu dilakukan" ujarnya.

              Iene menjelaskan bahwa langkah awal reformasi tersebut dapat dilakukan dengan melakukan
              sinkronisasi data BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Sinkronisasi itu menurutnya dapat
              memudahkan  proses  pendaftaran,  pendataan,  hingga  pemberian  manfaat,  sehingga  pada
              akhirnya  masalah-masalah  kepesertaan  dapat  teratasi  dengan  puasnya  peserta  terhadap
              program jaminan sosial.
              Menurutnya,  saat  ini  terdapat  banyak  variasi  program  persiapan  hari  tua,  tapi  kebijakannya
              belum komprehensif dan belum mengakomodir pekerja informal. Dalam skema pensiun, yang
              terdiri dari asuransi sosial, pesangon, dan dana pensiun sukarela, hanya sebagian yang dapat
              diikuti pekerja informal.




                                                           42
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48