Page 483 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 483

Beberapa permasalahan pembayaran THR yang diadukan antara lain THR tidak dibayar sama
              sekali, dibayar sebagian, dibayar bertahap dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, dibayar
              bukan dalam bentuk uang, dan perusahaan tidak mampu karena terdampak pandemi COVID-
              19.

              Sementara itu, Sekjen Kemnaker, Anwar Sanusi, mengatakan bahwa Kemnaker mengerahkan
              Pengawas  Ketenagakerjaan  yang  berada  di  tingkat  pusat  dan  daerah  untuk  mengawasi
              pelaksanaan pembayaran THR.

              Tindak  lanjut  pengaduan  dalam  Posko  THR  dilakukan  secara  periodic  berkoordinasi  dengan
              dinas-dinas  ketenagakerjaan  Anwar  mendorong  perusahaan  yang  terdampak  COVID-19  dan
              tidak  mampu  memenuhi  pembayaran  THR  untuk  melakukan  dialog  dalam  pelaksanaan
              pembayaran THR dengan tetap mengacu pada peraturan perundangan.

              Jika terdapat perusahaan yang tidak mampu membayarkan THR tujuh hari sebelum hari raya,
              maka harus ada kesepakatan tertulis bipartit antara pengusaha dan pekerja untuk jangka waktu
              pembayarannya.

              Kesepakatan tersebut dibuat secara tertulis juga harus didukung dengan bukti laporan keuangan
              2 tahun terakhir dan memuat waktu pembayaran THR Keagamaan dengan syarat paling lambat
              dibayar sehari (H-1) sebelum Hari Raya Lebaran.
              Pengusaha yang terlambat membayar THR keagamaan sebesar 5 persen dari total THR yang
              harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban pengusaha untuk membayar.

              Pengusaha yang tidak membayar THR dalam waktu yang ditentukan juga dapat dikenakan sanksi
              administratif sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

              Sanksi  tersebut  dapat  berupa  teguran  tertulis,  pembatasan  kegiatan  usaha,  penghentian
              sementara sebagian atau seluruh alat produksi, serta pembekuan kegiatan usaha.







































                                                           482
   478   479   480   481   482   483   484   485   486   487   488