Page 553 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 553

Ringkasan

              Kadin  mengaku  pasrah  bila  ada  perusahaan  yang  dikenakan  denda  dan  sanksi  administratif
              karena THR 2021 tidak dibayar penuh. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
              Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J. Supit mengakui pengusaha
              di sejumlah sektor masih kesulitan untuk bisa membayar Tunjangan Hari Raya (THR) penuh bagi
              para karyawannya. Ia pun mengakui bila hal ini tak sesuai dengan Surat Edaran Menaker soal
              pembayaran THR secara penuh.



              SOAL SANKSI TIDAK BAYAR PENUH THR, KADIN SEBUT TERSERAH PEMERINTAH

              Kadin  mengaku  pasrah  bila  ada  perusahaan  yang  dikenakan  denda  dan  sanksi  administratif
              karena THR 2021 tidak dibayar penuh.
              Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan
              Hubungan Industrial Anton J. Supit mengakui pengusaha di sejumlah sektor masih kesulitan
              untuk  bisa  membayar  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  penuh  bagi  para  karyawannya.  Ia  pun
              mengakui bila hal ini tak sesuai dengan Surat Edaran Menaker soal pembayaran THR secara
              penuh.

              Anton pun mengaku pasrah jika nantinya ada perusahaan yang dikenakan denda dan sanksi
              administratif sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan.
              "Terserah pemerintah, kan, katanya ada sanksi. Silakan saja pemerintah yang urus karena ini
              sudah di luar kemampuan kami," kata Anton dihubungi di Jakarta, Jumat (7/5/2021).

              Menurut Anton, berdasarkan keputusan pemerintah melalui Surat Edaran Menaker RI Nomor
              M/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan Pemberian  Tunjangan  Hari  Raya  Keagamaan  tahun
              2021  Bagi  Pekerja/Buruh  di  Perusahaan,  pembayaran  THR  harus  sesuai  dengan  ketentuan
              perundangan-undangan,  yaitu  Peraturan  Pemerintah  Nomor  36  Tahun  2021  tentang
              Pengupahan  dan  Peraturan  Menaker  Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari  Raya
              Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Bagi perusahaan yang terdampak COVID-19 dan tidak mampu memberikan THR 2021 sesuai
              dengan waktu yang telah ditentukan, dalam edaran tersebut mewajibkan pengusaha melakukan
              dialog dengan pekerja untuk mencapai kesepakatan yang dilaksanakan secara kekeluargaan dan
              dengan itikad baik dan berdasarkan laporan keuangan internal.

              Hasil  dari  dialog  tersebut  harus  dilaporkan  ke  Dinas  Ketenagakerjaan  setempat  dengan
              pemberian THR paling lambat dilakukan sehari sebelum hari raya keagamaan. Terdapat sanksi
              bila terlambat atau bahkan tidak membayar THR tersebut.
              "SE Menaker menyebutkan bahwa tidak memberikan peluang bagi yang tidak mampu. Itu hanya
              menekankan, bagi yang mampu minimal 1 minggu sebelum Lebaran harus bayar. Yang tidak
              mampu harus lapor ke pemda, tapi paling lambat 1 hari sebelum Lebaran harus bayar. Jadi tidak
              ada kata lain, harus bayar," kata dia.

              Menurut Anton, kewajiban tersebut tidak memberi kesempatan bagi perusahaan-perusahaan di
              sektor yang masih lesu seperti perhotelan atau transportasi, hingga UMKM. Padahal, sektor-
              sektor tersebut saja masih terseok untuk bisa mempertahankan operasional mereka.
              "Kita tahu pandemi ini kan melanda bukan cuma kita, tapi juga dunia. Kedua, ini juga bukan
              kesalahan perusahaan, tapi force majeure. Mestinya ini keadaan tidak normal tapi dipaksakan
              supaya melakukan hal normal (membayar THR penuh)" kata dia.

                                                           552
   548   549   550   551   552   553   554   555   556   557   558