Page 558 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MEI 2021
P. 558
Teman lainnya bercerita, mengenai rencananya jika uang THR sudah cair. "Tahun ini THR-ku
mau tak -belikan HP untuk anakku, Mas. Sudah dari akhir tahun lalu sudah merengek minta
dibeliin HP baru. HP yang dipakai saat ini sudah sering hang, apalagi kalau dipakai untuk
mengikuti jadwal pembelajaran jarak jauh sama gurunya, untuk buka aplikasi Zoom sudah ndak
kuat. Jadi sering ngganggu bapak-ibunya untuk pinjam HP," katanya panjang.
Dari situ saya malah jadi tertarik dengan teman-teman lainnya, bagaimana mengalokasikan dana
THR mereka, terutama dari para pegawai yang gajinya menggunakan standar UMK. Ada teman
yang ingin beli kursi sofa; dia habis pindahan, beli rumah subsidi yang harganya di bawah 150
juta itu. Di rumah barunya, dia belum memiliki kursi untuk ruang tamu. Ada lagi yang sudah
mengincar barang elektronik untuk mengisi rumahnya, seperti kulkas dan kipas angin.
Kapan lagi, karyawan dengan gaji UMK bisa membeli keinginan-keinginannya, kalau bukan saat
momen hari raya seperti ini, dari mendapatkan THR? Kapan lagi bisa mendapatkan 'gaji' utuh
tanpa kena potongan-potongan? Ya potongan BPJS, ya koperasi, ya cicilan, yang biasanya sudah
menanti ketika tanggal gajian tiba.
Walaupun tahun ini tidak boleh mudik Lebaran, bukan berarti uang THR tidak dibutuhkan. Karena
selama ini, THR sudah menjadi rutinitas yang pasti mereka dapatkan setiap tahun. Juga sudah
masuk perencanaan anggaran keluarga setiap menjelang hari raya tiba.
Orang-orang tidak hanya menganggap THR sekadar tunjangan semata. Tapi, lebih dari itu, THR
sudah menjadi hal pokok. Terutama bagi karyawan yang gajinya pas-pasan; yang
penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan saja. Jadi, mana mungkin
karyawan bisa ikut merayakan hari raya apabila hanya mengandalkan gaji saja? Padahal jika kita
lihat, gaji dengan standar UMK di Sragen, di daerah tempat tinggal saya, tahun 2021 ini
besarannya Rp 1.829.500. Bisa dibayangkan, dengan upah hanya "segitu", atau katakanlah naik
sedikit dari itu, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga saja --mana cukup? Maka kebanyakan
orang-orang yang berpenghasilan seperti itu berusaha memiliki 'sampingan' selain kerja utama
mereka di pabrik. Ada yang di rumahnya mereka nyambi beternak, dengan piara ayam, kelinci,
kambing, atau sapi. Ada yang nyambi jadi ojek online. Ada yang jadi kurir pengantar laundry.
Apapun dilakukan untuk menambah penghasilan agar kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi.
Jadi setelah 8 jam bekerja, saat kembali ke rumah, mereka masih harus menguras keringat lagi
di tempat lain. Setiap hari. Betapa hari ini, kebutuhan hidup menuntut mereka seakan hanya
untuk mengejar uang semata! Jika kita mengikuti berita, seharusnya kekhawatiran akan tidak
adanya THR sudah terobati. Manakala Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah sudah membuat
surat edaran terkait pembayaran THR tahun ini pada 14 April lalu. Bahwa perusahaan harus
membayarkan THR kepada pekerja/buruhnya. Baik pekerja yang berstatus tetap maupun
kontrak, dan bagi pekerja/buruh yang sudah melewati masa kerja 1 bulan. Tidak boleh lagi dicicil
seperti tahun lalu, saat pandemi Covid-19 baru heboh-hebohnya.
Perusahaan harus membayar THR kepada karyawan maksimal H-7 hari raya keagamaan. Tapi,
bagi perusahaan yang tidak mampu secara finansial untuk membayarkan THR sesuai waktu yang
ditentukan karena terdampak pandemi Covid-19, boleh menangguhkan pembayaran THR
maksimal satu hari sebelum hari raya keagamaan.
Pengusaha harus menunjukkan bukti-bukti, yaitu melaporkan keadaan finansial mereka secara
transparan. Juga harus sudah melakukan dialog dengan karyawan, yang dibuktikan dengan
tanda tangan secara tertulis yang memuat kapan perusahaan akan membayar THR-nya.
Jika perusahaan tidak membayar sesuai ketentuan di atas, akan diberikan sanksi. Bisa berupa
denda, bisa pengurangan izin produksi, sampai penutupan izin usaha. Selain juga, tidak
menghilangkan kewajiban perusahaan untuk tetap harus membayar THR kepada karyawannya.
557

