Page 79 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2021
P. 79
Agus menegaskan bahwa semangat wirausaha yang ditumbuhkan dari pendidikan vokasi
memiliki ciri khas tersendiri. Artinya, lulusan tidak boleh gagap dalam menerjemahkan
kewirausahaan sehingga usaha yang dirintis nantinya bisa berbeda, dan utamanya mampu
memberikan manfaat kepada masyarakat. Mereka nantinya akan menjadi social entrepreneur
maupun technopreneur di bidang masing-masing.
Pentingnya skill wirausaha juga diungkapkan oleh dosen Universitas Indonesia yang kini menjadi
salah satu tim Program Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Kemendikbudristek, Rifelly Dewi
Astuti. Menurutnya, mahasiswa sebagai calon tenaga kerja terdidik Indonesia harus memiliki
pengetahuan dan skill yang sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja. Namun penawaran
tenaga kerja sendiri setiap tahun tidak meningkat secara signifikan. Permintaan jauh lebih besar
dibandingkan penawaran tenaga kerja.
“Penting bagi insitusi pendidikan tinggi membekali mahasiswa dengan berbagai pengetahuan
dan keahlian berwirausaha, sehingga mahasiswa sewaktu lulus nanti bukan hanya tergantung
dengan pasar tenaga kerja yang terbatas, namun harapannya dapat menciptakan usaha sendiri
bagi dirinya, dan bahkan mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain di sekitarnya,”
ujarnya.
Menumbuhkan kewirausahaan pada pendidikan vokasi yang cenderung memiliki porsi praktik
lebih besar tidak terbatas dalam bentuk mata kuliah tersendiri. Justru dengan porsi praktik yang
lebih besar, kemungkinan untuk mahasiswa mempelajari keterampilan, keahlian, bahkan sikap
wirausaha melalui praktik akan semakin besar pula. Mahasiswa akan langsung terjun ke
lapangan, dan mempraktikan ilmu, keahlian, bahkan membentuk sikap wirausaha pada saat
praktik.
“Dengan pendidikan kewirausahaan yang embedded, mahasiswa mampu melihat peluang usaha
sewaktu melakukan program kerja magang sehingga mampu memberikan solusi pada
perusahaan tempat magang sekaligus menjadi peluang usaha bagi dirinya. Mereka diharapkan
lebih memahami permasalahan riil yang ada pada industri, mampu memberikan solusi dan ide
kreatif, serta mampu mewujudkan ide tersebut sebagai bentuk usaha di masa depan,” tambah
Rifelly.
Selain dari penguatan ekosistem kewirausahaan di kampus vokasi, para mahasiswa juga dapat
meningkatkan skill wirausaha dengan cara mengasah pola pikir secara kritis dan kreatif, selalu
melihat peluang, dan terus memperbaharui pengetahuan yang up to date dengan mengikuti
berbagai pelatihan kewirausahaan. Rifelly juga menjelaskan, membangun jejaring yang luas juga
sangat penting untuk merintis usaha.
Dalam rangka memperkuat kampus vokasi dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan kepada
para mahasiswa, Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri,
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek kini tengah membuka Program
Penguatan Ekosistem Kewirausahaan Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Vokasi
(PTPPV). Pendaftaran program yang akan memberikan bantuan pendanaan maksimal senilai
Rp250 juta per PTPPV ini masih dibuka hingga 18 Juli 2021. Informasi lebih lanjut dapat diakses
melalui ptvp.mitrasdudi.kemdikbud.go.id.
78

