Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2021
P. 75

SOLUSI SEMENTARA PENANGKAL PHK

              Pemerintah mendorong pengusaha menata ulang jam kerja pekerja selama masa pemberlakuan
              pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Kebijakan itu diharapkan bisa menekan laju
              penularan  Covid-19  di  kawasan  industri,  menghindari  pemutusan  hubungan  kerja,  dan
              melindungi hak-hak buruh yang terpaksa bekerja dari rumah.

              Direktur  Jenderal  Ketahanan,  Perwilayahan,  dan  Akses  Industri  Internasional  Kementerian
              Perindustrian, Eko S.A. Cahyanto, mengatakan saat ini industri yang boleh beroperasi hanyalah
              perusahaan yang memiliki izin operasional dan mobilitas kegiatan industri (IOMKI).

              Eko menyebutkan pemerintah membagi industri ke dalam dua kategori, yaitu sektor esensial
              dengan kapasitas bekerja dari kantor maksimal 50 persen dan sektor kritikal dengan kapasitas
              bekerja dari kantor 100 persen selama PPKM darurat. Pembagian itu dilakukan untuk menjaga
              keberlangsungan usaha dan menghindari penyebaran Covid-19 lewat kluster industri.

              “Hal yang ditekankan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi adalah soal penyesuaian jam kerja
              untuk menghindari 50 persen pekerja itu (yang tidak mendapat jatah bekerja) dikenai PHK. Perlu
              diatur separuh-separuh (masuk dan libur),” ujar Eko kepada Tempo, kemarin.

              “Kami tidak menoleransi pelanggaran protokol kesehatan. Hingga 9 Juli lalu, sudah ada 331
              IOMKI yang kami cabut (karena melanggar protokol kesehatan),” kata Eko.

              Dalam  konferensi  pers  harian  PPKM  darurat,  juru  bicara  Kementerian  Komunikasi  dan
              Informatika, Dedy Permadi, mengatakan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut
              Binsar  Pandjaitan  selaku  koordinator  PPKM  darurat  telah  meminta  Menteri  Ketenagakerjaan
              menerbitkan aturan mengenai penafsiran bekerja dari rumah (WFH). Penafsiran dianggap perlu
              dilakukan agar tidak terjadi perbedaan pandangan ihwal WFH, termasuk definisi “dirumahkan”,
              yang bisa berdampak pada pengurangan upah pekerja.

              Luhut  sebelumnya  meminta  Kementerian  Ketenagakerjaan  menata  ulang  jam  kerja  buruh.
              Menurut dia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menata ulang jam dan hari kerja
              buruh. Misalnya, menerapkan mekanisme sehari bekerja di kantor, sehari dari rumah. “Kalau
              seharusnya  karyawan  bekerja  sebulan  30  hari,  sekarang  menjadi  15  hari.  Tujuannya  untuk
              menghindari para pekerja ‘dirumahkan’,” ujar Luhut, Selasa lalu.
              Luhut lantas meminta Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah membuat aturan yang jelas agar
              bisa diterjemahkan melalui peraturan menteri atau instruksi Menteri Dalam Negeri perihal aturan
              WFH. “Jadi, sistem kerja itu tidak disalahtafsirkan sebagai WFH tanpa upah bagi pekerja,” kata
              Luhut.

              Direktur  Jenderal  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja,  Indah
              Anggoro, mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen melindungi hak-hak pekerja
              yang  terpaksa  bekerja  dari  rumah  pada  masa  PPKM  darurat.  Menurut  dia,  pekerja  yang
              sepenuhnya bekerja dari rumah masih berhak mendapatkan upah.

              Menurut  Indah,  Surat  Edaran  Menteri  Ketenagakerjaan  Nomor  M/3/HK.04/III/2020  tentang
              Perlindungan  Pekerja/Buruh  dan  Kelangsungan  Usaha  dalam  Rangka  Pencegahan  dan
              Penanggulangan  Covid-19  menyatakan  penyesuaian  besaran  upah  sebagai  dampak  PPKM
              darurat  harus  didasari  kesepakatan  tertulis  dari  hasil  dialog  bipartit  antara  pekerja  dan
              perusahaan.

              Wakil  Ketua  Umum  Kamar  Dagang  dan  Industri  Indonesia  Bidang  Pengembangan  Kawasan
              Industri, Sanny Iskandar, berujar, ketentuan penyesuaian sistem kerja seharusnya merujuk pada
              Instruksi  Menteri  Dalam  Negeri  tentang  PPKM  Darurat.  “Perlu  ada  komunikasi  (antara
              pemerintah) dengan dunia usaha apabila ada ketentuan baru,” ucap Sanny.
                                                           74
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80