Page 72 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2021
P. 72

Ringkasan

              Rencana pemerintah menyesuaikan sistem kerja dengan mengurangi jam kerja buruh selama
              masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat dinilai akan memberatkan
              dunia  usaha.  Wakil  Ketua  Umum  Kamar  Dagang  dan  Industri  Indonesia  Bidang  Hubungan
              Internasional,  Shinta  Widjaja  Kamdani,  memperkirakan,  bila  kebijakan  ini  diterapkan,
              produktivitas  industri  dapat  turun  hingga  setengahnya.  Sebaliknya,  beban  biaya  produksi
              diproyeksikan meningkat dua kali lipat.



              PRODUKTIVITAS BERKURANG, BEBAN BERTAMBAH

              Rencana pemerintah menyesuaikan sistem kerja dengan mengurangi jam kerja buruh selama
              masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat dinilai akan memberatkan
              dunia  usaha.  Wakil  Ketua  Umum  Kamar  Dagang  dan  Industri  Indonesia  Bidang  Hubungan
              Internasional,  Shinta  Widjaja  Kamdani,  memperkirakan,  bila  kebijakan  ini  diterapkan,
              produktivitas  industri  dapat  turun  hingga  setengahnya.  Sebaliknya,  beban  biaya  produksi
              diproyeksikan meningkat dua kali lipat.

              “Meskipun pengaturan jam kerja karyawan bisa dilakukan, perusahaan akan terbentur beban
              biaya operasi harian yang lebih panjang,” tutur Shinta kepada Tempo, kemarin.

              Menurut Shinta, pelaku industri bakal menanggung beban biaya lembur bila pekerja diminta
              masuk  pada  waktu  di  luar  jam  kerja  normal  hanya  untuk  menjaga  level  produktivitas.  Dia
              menuturkan tidak semua perusahaan di kawasan industri bisa menanggung beban tersebut.

              “Kami proyeksikan akan ada penurunan produktivitas yang drastis demi penghematan karena,
              dalam skenario terbaik, PPKM darurat masih akan berlangsung 4-6 pekan lagi,” tutur Shinta.
              Shinta  berharap  PPKM  darurat  di  kawasan  industri  bisa  dilakukan  tanpa  membatasi  jumlah
              pekerja ataupun jam kerja. Dia berpendapat bahwa pengetatan protokol kesehatan di tempat
              kerja lebih baik diterapkan bagi perusahaan di kawasan industri.

              Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia, Adhi S. Lukman,
              mengakui bahwa pengendalian pandemi Covid-19 sangat penting agar penyebaran virus terhenti
              dan  ekonomi  bisa  bergulir.  Namun,  kata  dia,  pembatasan  jumlah  pekerja  pabrik  akan
              mengganggu rantai pasok. Apalagi bagi sektor makanan dan minuman yang sangat dibutuhkan
              masyarakat.

              “Selama ini pabrik sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dan ternyata penularan
              lebih banyak terjadi di lingkungan tempat tinggal, bukan di pabrik. Jadi, pembatasan 50 persen
              (jumlah pekerja yang masuk) tidak perlu,” kata Adhi.
              Adhi mengimbuhkan, pengetatan jam kerja juga bakal mengganggu produktivitas. Padahal saat
              ini industri sudah sangat berat menanggung beban biaya dan harga bahan baku yang terus
              meningkat. Pada saat yang sama, harga jual sulit dinaikkan karena daya beli masyarakat belum
              pulih. Menurut Adhi, sebaiknya pemerintah berfokus pada pengawasan dan tindakan tegas di
              masyarakat. “Kalau di perusahaan, kami bisa kendalikan dengan baik,” kata Adhi.

              Adapun kinerja industri makanan dan minuman tercatat masih positif, terutama untuk kebutuhan
              makanan pokok serta pemenuhan nutrisi. Walau begitu, kata Adhi, tidak semua sektor memiliki
              kinerja  yang  baik.  Adhi  menyatakan  kinerja  beberapa  kategori  produk  masih  anjlok  karena
              berkaitan dengan kegiatan masyarakat dan pariwisata.




                                                           71
   67   68   69   70   71   72   73   74   75   76   77