Page 262 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 5 JULI 2021
P. 262
kebutuhan harian. Maklum, gaji bulanannya nyaris habis untuk membayar berbagai tagihan
mulai dari cicilan motor hingga rumah kontrakan.
DEG-DEGAN PRAMUSAJI DAN PEKERJA RITEL DI TENGAH PPKM DARURAT
Kabar penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pekan ini
bikin Nanang (24) pusing tujuh keliling. Pramusaji salah satu rumah makan di BSD, Tangerang
Selatan, itu cemas membayangkan pendapatannya yang akan hilang.
Selama ini, selain gaji bulanan, Nanang mendapat penghasilan tambahan dari tip pelanggan.
Uang itu ia gunakan untuk kebutuhan harian. Maklum, gaji bulanannya nyaris habis untuk
membayar berbagai tagihan mulai dari cicilan motor hingga rumah kontrakan.
"Jumlahnya lumayan bisa Rp50 ribu kalau lagi ramai," tuturnya kepada CNNIndonesia.com,
Kamis (7/1).
Kecemasan Nanang kian memuncak lantaran rumah makan tempat bekerja bisa saja ditutup
selama PPKM Darurat berlaku. Terlebih, kebijakan terbaru itu tak membolehkan restoran
melayani pengunjung makan di tempat.
Tahun lalu, ketika kebijakan serupa diterapkan, Nanang dirumahkan selama 1,5 bulan dan hanya
menerima setengah gaji. Ia akhirnya bekerja serabutan sebagai ojek online, pedagang sayur
hingga kurir.
"Dapatnya enggak seberapa, malah kena covid-19. Akhirnya isolasi mandiri, malah enggak bisa
kerja," ungkapnya.
Kendati demikian, Nanang mengaku tak dapat berbuat banyak dengan keputusan yang telah
diambil pemerintah. Ia hanya bisa berhemat untuk bertahan jika tempat kerjanya kembali
ditutup.
"Ya mudah-mudahan enggak lama PPKM Daruratnya. Jangan diperpanjang-perpanjanglah.
Motor juga kan masih panjang cicilannya," tuturnya.
Berbeda dengan Nanang, Anto, pedagang makanan di salah satu mal di Surabaya, Jawa Timur,
hanya bisa pasrah mendengar penerapan PPKM Darurat. Sebagai pedagang kecil tak banyak
yang bisa ia lakukan selain menekan pengeluaran.
Kepalanya juga sudah pengar dengan berbagai kabar buruk yang datang dalam beberapa pekan
terakhir, mulai dari teman dan kerabat yang terpapar covid-19 hinggga gaji istri yang tidak full
dibayar karena restoran tempat kerjanya mengurangi jam operasional.
"Bertahannya kempat-kempot. Sumber penghasilan biasanya ada dua. Suami dan istri, untuk
anak dua orang kuliah. Sekarang sumbernya tinggal istri. Usaha kulineran pun tidak bisa
maksimal. Karena pembeli tidak selalu keluar rumah atau beli online," ujarnya.
Sebelum memulai usaha sebagai pedagang makanan, Anto adalah karyawan di sebuah hotel di
Gili Trawangan, Lombok. Pada pertengahan 2020, beberapa bulan setelah pandemi covid-19
diumumkan WHO, hotel tempatnya bekerja tutup karena kehilangan pengunjung.
Anto memutuskan pulang kampung dan menggunakan sisa gajinya untuk membuka usaha.
Sebelum berdagang makanan, ia juga sempat melakoni profesi reparasi sepeda tapi hanya
bertahan satu bulan.
261

