Page 435 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 435

"Tidak  hanya  memperkuat  kerangka  hukum  dan  melindungi  HAM, tetapi  juga  mengadvokasi
              transparansi  pada  rantai  pasok  perikanan  dengan  harapan  dapat  mencegah  segala  bentuk
              eksploitasi ke depannya," jelas Cohen.

              Meski demikian, salah satu pembicara dalam webinar Co-Director COS James Leape menyebut,
              pelanggaran  HAM  di  atas  kapal  ikan  tidak  bisa  diselesaikan  melalui  advokasi  saja.  Baik
              pemerintah  maupun  pengusaha  juga  harus  duduk  bersama  untuk  menyelesaikan  masalah
              tersebut.

              "Contohnya, permasalahan penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan ( unsustainable fishing
              practice  ).  Untuk  mengatasi  hal  tersebut,  pemerintah  membuat  aturan  ketat.  Sementara,
              pengusaha  dan  konsumen  menggunakan  kemampuan  pasarnya  untuk  memberikan  insentif
              terhadap  pelaku  penangkapan  ikan  yang  menerapkan  praktik  penangkapan  ikan  secara
              berkelanjutan," ujar Leape.

              Leape  pun  mengapresiasi  Pemerintah  Indonesia  karena  memiliki  undang-undang  untuk
              melindungi pekerja migran di luar negeri, khususnya untuk yang bekerja di tengah laut.

              Ia melihat adanya potensi melibatkan pembeli produk perikanan dunia agar lebih bertanggung
              jawab  dengan  cara  memberikan  insentif  agar  kapal-kapal  ikan  asing  mematuhi  aturan  dan
              memperlakukan pekerjanya sebagaimana mereka harus diperlakukan.
              "Pemerintah Indonesia punya peran penting untuk melindungi pekerja migrannya di kapal asing
              karena sangat banyak pekerja Indonesia yang bekerja di kapal ikan asing dan terekspos dengan
              permasalahan HAM," ucap Leape.

              Suara ABK Perikanan Indonesia Terkait pelanggaran HAM ABK, Direktur Dukungan Penegakan
              Hukum  dan  Akses  Terhadap  Keadilan  IOJI  Fadilla  Octaviani  mengatakan,  pihaknya  telah
              mengidentifikasi 10 permasalahan struktural dari permasalahan tersebut.

              Salah satunya yakni relasi kuasa yang tidak seimbang antara perusahaan perekrut dan ABK. Ini
              menyebabkan pekerja tidak memiliki posisi tawar sejak tahap perekrutan.

              "Perjanjian  kerja  diberikan  satu  hari  sampai  satu  jam.  Mereka  tidak  diberi  kesempatan
              berkonsultasi terkait perjanjian kerja dengan siapapun. Bahkan, dipaksa untuk menandatangani
              surat pernyataan pembayaran denda apabila tidak menyelesaikan masa kerja." Ucap Fadilla.

              Fadilla  juga  mengungkapkan,  lemahnya  pengawasan  pemerintah  berdampak  pada  tidak
              terpenuhinya hak ABK dari sejak sebelum, selama, dan setelah bekerja.

              "Ada hampir 10 jenis biaya yang dibebankan kepada ABK, seperti biaya pengurusan paspor, visa,
              medical  check-up,  uang  charge  penempatan,  biaya  broker,  hingga  biaya  penipuan  yang
              mengatasnamakan program G to G pemerintah" jelas Fadilla.
              Selain itu, persoalan gaji merupakan permasalahan paling besar. banyak modus dilakukan oleh
              perusahaan,  dari  pemotongan  gaji,  permainan  kurs,  menolak  membiayai  kepulangan  ABK,
              hingga gaji yang tidak pernah dibayarkan.

              "Mayoritas ABK lebih memilih gajinya dibayarkan oleh pemilik kapal secara langsung karena tidak
              ada pemotongan gaji sehingga mereka dapat memastikan kapan gajinya dikirim. Salah satu ABK
              menunjukkan nota dimana tidak menerima gaji selama enam bulan karena berbagai potongan
              yang diterapkan perusahaan," ucap Fadilla Praktik pelanggaran tersebut terus dibiarkan oleh
              pemerintah dan kerap terjadi pada kapal dengan bendera yang sudah terbukti sering melakukan
              praktik eksploitatif dan pelanggaran HAM.




                                                           434
   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439   440