Page 434 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 434

Ringkasan

              Perlindungan terhadap anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bertugas di kapal asing masih
              tergolong lemah. Hingga saat ini, ABK Indonesia masih kerap mengalami eksploitasi. Menurut
              riset  Universitas  Coventry  pada  2016,  kasus  ketenagakerjaan  paling  banyak  membelit  ABK
              Indonesia. Jumlahnya mencapai 48,4 persen atau 1.148 kasus.



              SENGKARUT PERMASALAHAN PELANGGARAN HAM TAK KUNJUNG USAI, IOJI
              ANGKAT SUARA ABK PERIKANAN INDONESIA

              JAKARTA, - Perlindungan terhadap anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bertugas di kapal
              asing masih tergolong lemah. Hingga saat ini, ABK Indonesia masih kerap mengalami eksploitasi.

              Menurut riset Universitas Coventry pada 2016, kasus ketenagakerjaan paling banyak membelit
              ABK Indonesia. Jumlahnya mencapai 48,4 persen atau 1.148 kasus.

              Kemudian, disusul kasus penyelundupan manusia sebanyak 35,1 persen atau 833 kasus dan
              perdagangan manusia sebanyak 12,1 persen atau 287 kasus.

              Khusus untuk ABK yang bekerja di kapal ikan asing, sepanjang 2020 Badan Perlindungan Pekerja
              Migran Indonesia (BP2MI) menangani 432 kasus ABK sea-based dan memfasilitasi pemulangan
              22.553 ABK. Pengaduan tertinggi adalah terkait gaji yang tidak dibayarkan maupun gaji yang
              tidak layak.

              Catatan serupa juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Indonesia Ocean Justice
              Initiative (IOJI) selama November 2020 sampai Februari 2021.

              CEO  IOJI  Achmad  Santosa  menjelaskan,  banyak  ditemukan  praktik-praktik  ilegal  dan
              pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) pada proses sebelum, selama, dan setelah ABK bekerja
              masih marak terjadi di kapal-kapal ikan asing.
              Masih berdasar penelitian yang dilakukan IOJI, Ota pun mengungkapkan lima akar masalah dari
              lemahnya perlindungan terhadap ABK Indonesia.

              "Kelimanya adalah belum adanya seperangkat peraturan pelaksanaan UU Nomor 18 tahun 2017
              tentang  Perlindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  untuk  menjabarkan  bentuk  perlindungan,
              duplikasi kewenangan dalam proses rekrutmen dan penempatan, belum adanya database ABK
              yang  terintegrasi,  pengawasan  dan  penegakan  hukum  terhadap  pelanggar  HAM  dan  pelaku
              kejahatan.  Tindak  Pidana  Perdagangan  Orang  (TPPO)  yang  belum  efektif,  serta  rendahnya
              kesadaran dan pengetahuan mengenai hak-hak dasar oleh para ABK," terang Ota dalam webinar
              "Mempertanyakan Komitmen Multi-Pihak dalam Melindungi ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing",
              Rabu (14/4/2021).

              Pada  kesempatan  yang  sama,  Founding  Director  Stanford  Center  for  Human  Rights  and
              International Justice (CHRIJ) David Cohen menjelaskan, pemberantasan perdagangan manusia
              dan perbudakan modern, khususnya di sektor perikanan dan kelautan, memang tidak mudah.

              "Sektor perikanan kondisinya semakin buruk karena pekerja berada jauh di tengah laut, bahkan
              di laut lepas atau zona ekonomi eksklusif negara lain. Mereka berada di sana untuk waktu yang
              lama sehingga sulit terdeteksi keberadaanya. Hal ini menunjukkan kerentanan yang absolut,"
              ujar Cohen.

              Cohen menambahkan, CHRIJ dan Stanford Center for Ocean Solution (COS) telah berkolaborasi
              dengan IOJI untuk mengatasi permasalahan hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di atas kapal.


                                                           433
   429   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439