Page 436 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 436

Berdasarkan,  Undang-Undang  Nomor  18  tahun  2017  Pemerintah  dapat  menghentikan
              penempatan pekerja migran Indonesia pada jabatan tertentu dengan pertimbangan pelindungan
              HAM.

              Siapkan  regulasi  Menteri  Tenaga  Kerja  Ida  Fauziyah  memastikan  pemerintah  akan  terus
              berusaha melindungi pekerja migran Indonesia (PMI), termasuk ABK.

              Untuk itu, pemerintah mengebut untuk menyelesaikan peraturan turunan dari UU Nomor 18
              Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

              Beleid tersebut, kata Ida, juga mengatur tentang penempatan dan perlindungan awak kapal dan
              pelaut perikanan yang berada di bawah Kementerian Sekretariat Negara.

              Ida  mengakui  beleid  dari  pemerintah  saat  ini  masih  belum  menyeluruh.  Akan  tetapi,  aturan
              turunan  disusun  mengacu  pada  konvensi  Organisasi  Perburuhan  Internasional  (ILO),  yakni
              Maritime Labor Convention 2006, Work in Fishing Convention 2007 No 188 (ILO C188), serta
              peraturan perundang-undangan nasional lain di bidang pelayaran, kelautan, dan perikanan.

              "Jika  nanti  terbit,  diharapkan  permasalahan  dualisme  kewenangan,  database,  dan  lemahnya
              pengawasan tidak muncul lagi," jelas Ida.

              Saat  ini,  lanjut  Ida,  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemnaker)  tengah  mengusahakan  kerja
              sama bilateral dengan negara penempatan awak kapal melalui memorandum of understanding
              (MoU).
              Pemerintah juga menjalin kerja sama dengan ILO untuk peningkatan kapasitas sumber daya
              manusia (SDM) pengawas, melakukan inspeksi bersama antara pengawas ketenagakerjaan dan
              pengawas perikanan, serta melakukan pembinaan serta pengawasan terhadap perusahaan yang
              menempatkan  pekerja  migran  perikanan  sehingga  dalam  operasionalnya  tidak  melanggar
              aturan.

              "Saya berpandangan bahwa pendayagunaan potensi laut nasional beserta isi yang terkandung
              di  dalamnya  mutlak  dilakukan  untuk  kepentingan  bersama  sehingga  laut  Indonesia  dapat
              dimanfaatkan oleh rakyatnya sendiri dengan awak kapal perikanan kita tidak harus bekerja di
              kapal asing," kata Ida.

              Kepala  BP2MI  Benny  Ramdhani  yang  juga  menyampaikan  keynote  speech  pada  webinar
              mendukung  langkah  pemerintah  untuk  segera  menyelesaikan  aturan  terkait  PMI.Pasalnya,
              masalah tersebut berasal dari carut marutnya tata kelola penempatan dan perlindungan ABK.

              "Harapannya, implementasi undang-undang perlindungan pekerja migran indonesia (PPMI) akan
              menjadi jawaban atas masalah ini," jelas Benny.

              Ia  pun  menekankan  pentingnya  kolaborasi  dalam  mengatasi  permasalahan  ABK  Indonesia.
              Pasalnya, masalah ini tidak bisa diselesaikan secara sepihak.

              Sebagai bagian dari pemerintah, Benny memastikan bahwa BP2MI akan terus berusaha untuk
              membantu ABK yang mengalami masalah, terutama yang ada di kapal ikan asing.

              Upayakan  diplomasi  dan  penegakan  hukum  Rumitnya  pemecahan  pelanggaran  HAM  yang
              dialami ABK Indonesia diamini Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kementerian Luar Negeri
              (Kemenlu) Negeri Andy Rachmianto.

              Saat  mengisi  webinar  IOJI  pada  hari  kedua,  ia  memaparkan  bahwa  berdasarkan  catatan
              Kemenlu, ada 1.450 kasus pelanggaran hukum terjadi di kapal perikanan asing pada tahun 2020.
              Angka tersebut meningkat drastis jika dibandingkan dua tahun sebelumnya, yakni 1.079 kasus
              pada 2018 dan 1.095 kasus pada 2019.
                                                           435
   431   432   433   434   435   436   437   438   439   440   441