Page 437 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 April 2021
P. 437

"Adanya pandemi membuat pelanggaran hukum terhadap ABK semakin meningkat. Perbatasan
              ditutup, baik itu di udara maupun laut. Para ABK ini mau tak mau harus tetap di kapal. Selain
              itu, ekonomi perusahaan yang memburuk di masa pandemi juga menjadi faktor utama pemicu
              pelanggaran hukum," kata Andy.

              Seperti diketahui, pandemi berdampak besar pada sektor ekonomi di berbagai bidang, termasuk
              sektor perikanan dan kelautan.

              Lantaran hal tersebut, tambah Andy, banyak perusahaan melakukan pelanggaran, mulai dari
              tidak membayar gaji ABK, tidak menyediakan fasilitas yang layak, hingga tidak mengizinkan ABK
              kembali ke negara asal.

              Guna membereskan masalah tersebut, pemerintah berusaha sebaik mungkin membantu para
              ABK lepas dari kondisi tersebut.

              "Sejumlah langkah kami jalankan, seperti melakukan diplomasi dengan negara bendera kapal,
              memfasilitasi kepulangan ABK, memenuhi hak-hak ABK, dan mendampingi mereka yang menjadi
              korban perdagangan manusia," terang Andy.

              Senada dengan Andy, Ketua Dewan Pengarah Satuan Tugas Pemberantasan Sindikat Pengiriman
              Pekerja Migran Indonesia Secara Ilegal Komisaris Jenderal (Purn) Suhardi Alius mengatakan,
              melindungi keberadaan ABK di kapal asing sudah menjadi kewajiban semua pihak, terutama
              pemerintah. Oleh karena itu, penegakan hukum memiliki peran yang penting.

              "Agar menimbulkan efek jera. Jangan semata-mata hanya diberi sanksi administrasi, tapi malah
              tidak pernah dicukupi. Jadi, (harus) dengan penegakan hukum, apalagi sekarang sudah ada
              undang-undang yang mengatur," tegas Suhardi.

              Maka  dari  itu,  agar  perlindungan  terhadap  ABK  tepat  sasaran,  undang-undang  perlindungan
              yang sudah ada harus diimplementasikan dengan baik.

              "Dengan segala hormat, aturan berskala internasional atau nasional yang ada saat ini belum
              dipraktikkan dengan semestinya. Kita harus mempertanyakan komitmen semua pihak mengenai
              masalah penegakan hukum ini," imbuh Suhardi.

              Pada  kesempatan  yang  sama,  Sekretaris  Jenderal  Indonesian  Fisherman  Manning  Agency
              Indonesian Fisherman Manning Agency (IFMA) Sonny Pattiselanno mengatakan, ia menyetujui
              penegakan dan penindakan hukum terhadap perusahaan yang melakukan praktik ilegal harus
              dilakukan secara adil.

              Bahkan, Hingga saat ini, IFMA telah mengeluarkan beberapa perusahaan dari keanggotaanya
              karena dugaan praktik ilegal.

              "IFMA  melakukan  konsolidasi  organisasi  melalui  pembinaan  kepada  anggota,  seperti  untuk
              memitigasi  penempatan  non-prosedural  pelaut,  mengusulkan  moratorium  perekrutran  dan
              pengiriman pelaut ke kapal maupun yang diusahakan oleh pengusaha asal Cina, dan memberikan
              peringatan  kepada  pemilik  kapal  yang  melakukan  pelarungan  tidak  sesuai  prosedur
              internasional". ujar Sonny.

              Selain  penegakan  hukum,  Deputy  Director  dari  Stanford  COS  Elizabeth  Selig  menyampaikan
              bahwa transparansi merupakan peluang yang dapat diterapkan dalam rantai pasok tenaga kerja
              perikanan sejak tahap rekrutmen, khususnya pada sektor pembayaran gaji.
              "Pada Juni 2017 para pemimpin perusahaan tuna di dunia (pembeli, perdagang, dan retailer )
              mendeklarasikan  komitmen  untuk  menghapus  segala  bentuk  perbudakan  pada  rantai  pasok
              perikanan tuna", ucap Liz Bagi pekerja, transparansi dapat memberdayakan ABK untuk lebih

                                                           436
   432   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442