Page 562 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 562

Kebijakan pemerintah ini, disambut hangat masyarakat khususnya karyawan dan pegawai di
              sejumlah  perusahaan  swasta.  Pasalnya  keberadaan  THR  dikhawatirkan  akan  ditiadakan
              perusahaan dengan alibi perusahaan alami kesulitan pertumbuhan karena pandemi covid-19.

              Maliki, salah seorang karyawan salah satu perusahaan swasta di Kota Palembamg menegaskan,
              tahun lalu perusahaan ditenpatnya bekerja sejak puluhan tahun hanya membayar setengah THR
              yang seharusnya diberikan minimal satu bulan gaji.

              "Biasanya besaran THR yang kita dapat dua bulan gaji, adapun satu bulan gaji. Namun tahun
              lalu hanya setengah dari satu bulan gaji, dan di tahun ini rumor yang beredar diperusahaan kami
              akan sulit bahkan bisa saja tidak ada THR," tegasnya.

              Senada  diungkapkan  Putra,  warga  Kota  Palembang  lainnya.  Dia  mengatakan,  tahun  lalu  dia
              menerima  THR  yang  dibayar  telat.  "Hari  raya  kami  tidak  menerima  THR  karena  uang  kas
              perusahaan hanya mampu membayar gaji kami saja. Karena batas wakru gajian dan THR nyaris
              bersamaan," paparnya.
              Maka, dirinya kata putra dan beberapa rekan sekantornya mendapatkan THR di penghujung
              tahun. "Beruntungnya kami, THR diberikan di akhir tahun. Kami bersyukur dimana banyaj orang
              bahkan kena PHK, " jelasnya.

              Maka  dengan  adanya  posko  pengaduan  THR,  Putra  berhatap  dapat  menyampaikan  apabila
              adanya pelanggaran. "Semoga juga posko ini bisa menyelesaikan persoalan yang menyangkut
              masalah pembayaran THR. Jangan hanya menampung namun tidak ada jalan keluarnya bagi
              pegawai atau karyawan," harapnya.

              Dr  MH  Tahmrin  MSi,  selaku  Pengamat  Kebijakan  Publik  mengatakan,  efektif  tidaknya
              pembentukan posko THR tergantung dari apa ukurannya. Dikatakannya, jika yang dimaksudkan
              adalah  untuk  mengakomodasi  kepentingan  buruh  sehingga  mudah  untuk  menyampaikan
              keluhan manakalah haknya terhadap THR tidak terpenuhi maka jelas adanya posko ini potensial
              efektif.

              "Tapi jika ukurannya adalah terbayarnya THR yang dikeluhkan boleh jadi belum jelas. Karena
              adanya  pengusaha  yang  tidak  membayar  THR  sesuai  dengan  ketentuan  besar  kemungkinan
              karena keengganan atau ketidakmauan pengusaha," ujarnya.
              Besar kemungkinan lanjut Thamrin, karena ketidakmampuan akibat menurunnya aktivitas bisnis
              sehingga mempengaruhi secara tajam pendapatan perusahaan. Ringkasnya kata dia, kebijakan
              pembentukan posko ini harus jelas tindak lanjutnya. "Bukan sekedar memfasilitasi pengaduan
              kemudian  sebatas  inventarisasi  semata  tetapi  juga  harus  jelas  tindak  lanjut  dari  pengaduan
              tersebut," tandasnya.

              Mengingat kemungkinan persoalan pembayaran THR ini sambung Thamrin, bersumber dari 2
              kemungkinan,  pertama  karena  keengganan  pengusaha,  dan  kedua  karena  ketidakmampuan
              pengusaha.

              "Untuk hal yang pertama maka jelas yang diperlukan upaya penegakan hukum. Sementara untuk
              kasus kedua, diperlukan proses komunikasi yang memadai agar tidak berdampak yang lebih
              buruk  berupa  PHK  atau  penutupan  perusahaan.  Untuk  itu  koordinasi  yang  intensif  perlu
              dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja dengan Pemerintah Daerah," terangnya.

              Pemda lanjut dia, mungkin dapat membantu fasilitasi untuk mengefektifkan mekanisme bipartit
              pada level perusahaan dan juga tripartit pada level daerah dan bisa juga pemda menfasiltiasi
              dengan membuka dialog lebih awal tidak hanya dengan pihak pengusaha dan pekerja tetapi juga
              asosiasi yang mewadahi kedua belah pihak yang setidaknya dapat diupayakan jalan keluar yang
              lebih efektif.
                                                           561
   557   558   559   560   561   562   563   564   565   566