Page 93 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 26 APRIL 2021
P. 93

Menurut  Indah,  hal  tersebut  sesuai  dengan  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021
              tentang  Pelaksanaan  Pemberian  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  Keagamaan  Tahun  2021  bagi
              Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              Secara  garis  besar,  Surat  Edaran  tersebut  mewajibkan  pengusaha  untuk  memberi  THR
              Keagamaan secara penuh kepada pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran. "THR Keagamaan wajib
              diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum hari raya keagamaan,"
              kata Dirjen Putri dalam keterangan resmi, pada Minggu (25/04).

              Lanjut,  Putri  mengungkapkan  bahwa  terdapat  tiga  jenis  pekerja  atau  buruh  yang  berhak
              memperoleh THR Keagamaan.

              Pertama, pekerja atau buruh berdasarkan PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) atau PKWTT
              (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus atau
              lebih.

              Kedua, pekerja atau buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha terhitung
              sejak H-30 hari sebelum hari raya keagamaan.

              Terakhir, pekerja atau buruh yang dipindahkan ke perusahaan lain dengan masa kerja berlanjut,
              apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              Putri menegaskan bahwa tidak ada perbedaan pembayaran THR terkait status kerja. Semuanya
              wajib  dibayar  penuh  dan  tepat  waktu.  "Para  pekerja  outsourcing  maupun  pekerja  kontrak,
              asalkan telah bekerja selama 1 bulan atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat
              hari keagamaan berlangsung, maka berhak mendapatkan THR juga," ujar Indah.

              Indah mengungkapkan pekerja berhak mendapatkan THR dengan besaran satu bulan upah bagi
              mereka yang memiliki masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih.
              Adapun  pekerja  dengan  masa  waktu  kurang  dari  12  bulan  berhak  mendapatkan  THR  yang
              dihitung secara proporsional sesuai masa kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih; atau
              upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan
              tidak tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.

              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan  THR yang nilainya  lebih  besar dari  peraturan perundang-undangan,  dimana  hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," ujar Dirjen Putri.

              Terakhir, Indah menjelaskan untuk pekerja atau buruh harian, upah mereka dihitung melalui
              dua skema, yakni bagi yang memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih, jumlah THR akan dihitung
              dari rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya. Sementara, untuk
              pekerja dengan masa kerja kurang dari 12 bulan, jumlah THR berdasarkan rata-rata upah yang
              diterima tiap bulan selama masa pekerja.

              Reporter: Muhammad Mutaqin  Editor: Rohmat Haryadi.









                                                           92
   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98