Page 106 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 106

BANJIR BAJA IMPOR DARI CINA, 100 RIBU KARYAWAN TERANCAM PHK

              Baja murah dari Cina membanjiri Indonesia. Akibatnya, industri baja dalam negeri kalah bersaing
              dan terancam gulung tikar. "Baja impor terutama dari Cina dijual sangat murah di Indonesia.
              Jika  dibiarkan,  industri  baja  nasional  akan  bangkrut  dan  100  ribu  karyawan  terancam  PHK
              massal," jelas Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal dalam jumpa
              pers di Jakarta hari ini.

              Di saat pandemi Covid-19, jelas Said, tentu saja ancaman PHK massal membuat masyarakat
              semakin  menderita.  "Perekonomian  semakin  terpuruk.  Tenaga  kerja  yang  sebagian  besar
              masyarakat menengah ke bawah semakin menjerit. Efek dominonya luar biasa," kata Said.

              Mengenai banyaknya karyawan industri baja, Said mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS)
              tahun 2019. Dalam hal ini Said mengingatkan, jumlah tenaga kerja di sektor baja sekitar 100,000
              orang. "Tersebar di berbagai perusahaan seperti Krakatau Steel, Gunung Raja Paksi, Ispatindo,
              Master Steel, dan lain-lain. Dan semua ikut terancam," imbuhnya.
              Untuk menghindari PHK massal itulah, KSPI berharap agar Kementerian Perdagangan, dalam hal
              ini  Komite  Pengamanan  Perdagangan  Indonesia  (KPPI)  melanjutkan  perlindungan  safeguard
              untuk produk I-H section. "Safeguard sangat penting guna melindungi produk dalam negeri dari
              maraknya produk impor murah," imbuhnya.
              Di  sisi  lain,  lanjutnya,  ketika  safeguard  kepada  pabrik  baja  nasional  tidak  diperpanjang,
              dikhawatirkan perusahaan tidak bisa bersaing dengan produk impor murah. Akibatnya, Industri
              akan menutup beberapa unit usaha sehingga menyebabkan PHK massal. "Makanya, semua pihak
              harus membela industri dalam negeri," urainya.

              Untuk itu, lanjutnya, KSPI meminta Kementerian Perdagangan untuk bisa memberikan diskresi.
              Dalam hal ini kepada KPPI agar mengambil sikap untuk meneruskan aplikasi safeguard I - H
              section, sebagai upaya perlindungan terhadap industri dalam negeri.
              Said  yakin,  Pemerintah  akan  berpihak  pada  industri  baja  dalam  negeri,  termasuk  untuk
              menyelamatkan sekitar 100 ribu karyawan. Terlebih, ujarnya, bahwa saat ini banyak regulasi
              yang  dibuat  sebagai  relaksasi,  khususnya  saat  pandemi  Covid-19.  "Pemerintah  harus  berani
              mengambil sikap dan terobosan untuk membantu agar industri dalam negeri tetap bertahan.
              Jangan lupa, di balik industri terhadap tenaga kerja yang akan menjerit jika di-PHK," lanjut dia.

              Dalam sistem perdagangan internasional, perlindungan industri dalam negeri seperti Safeguard
              dan Anti Dumping masih tetap dibutuhkan. Melalui perlindungan tersebut, industri baja dalam
              negeri bisa tumbuh dan bersaing dengan baik.

              Menurut  Said,  perlindungan  juga  pantas  diberikan  karena  murahnya  baja  impor  dari  Cina
              disebabkan  unfair  trade.  Dalam  hal  ini  Pemerintah  Cina  memberikan  subsidi  secara  besar-
              besaran  terhadap  industri  baja  Negeri  Tirai  Bambu  tersebut.  Bahkan,  Pemerintah  Cina  juga
              memberikan subsidi untuk kebijakan lingkungan. "Padahal di Indonesia, kebijakan lingkungan
              termasuk slag B-3 dan scrap tanpa impunitas harus ditanggung industri baja sehingga menjadi
              beban finansial industri dan meningkatkan biaya produksi," jelasnya.


              Mengenai maraknya baja impor, Said mengutip data BPS. Menurutnya, hingga akhir tahun 2019
              besi dan baja menempati posisi ketiga komoditas impor nonmigas yang masuk ke Indonesia.
              Nilainya mencapai USD 7,63 Miliar atau senilai Rp106,8 Triliun. (ANP).






                                                           105
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111