Page 35 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 35
APPRODI SIAP BANTU PEMERINTAH NAIKKAN DAYA SAING INDONESIA
Indonesia harus memperbaiki peringkat daya saing secara global bila ingin mempercepat
pemulihan ekonomi.
Berdasarkan laporan peringkat daya saing dari beberapa lembaga dunia terkemuka, seperti
Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang baru dirilis World Economic Forum (WEF)
menunjukkan peringkat daya saing Indonesia pada tahun 2019 turun ke posisi 50 dari posisi 45
pada tahun sebelumnya.
Ketua Deklarator Asosiasi Profesi Produktivitas Indonesia, (Approdi) Sanggam Purba
mengatakan, kondisi ini disebabkan secara dominan adalah kurangnya kesungguhan dalam
melakukan peningkatan produktivitas dan daya saing nasional. Sementara itu, di lingkup ASEAN,
daya saing Indonesia hanya menempati peringkat empat masih di belakang Singapura, Malaysia,
dan Thailand.
Ia menyebutkan, berdasarkan Asian Productivity Organization (APO) tahun 2019, produktivitas
jam kerja Indonesia hanya 12,9 dolar AS menempati peringkat 11 dari 20 negara yang tergabung
dalam APO, sementara Singapore produktivitas jam kerjanya sebesar 63,2 dolar AS, Malaysia
16,3 dolar AS, Thailand 14,5 dolar AS," katanya saat Deklarasi Asosiasi Profesi Produktivitas
Indonesia, (Approdi) di Jakarta, Kamis (21/1).
Sementara itu daya saing tenaga kerja Indonesia melemah di tahun 2019. Berdasarkan release
GCI 4.0 di tahun 2019, daya saing pilar pasar tenaga kerja Indonesia menempati peringkat 85
dari 141 negara. Posisi Indonesia pada pilar ini menurun tiga peringkat dari tahun sebelumnya.
Pilar tersebut merupakan pilar dengan capaian peringkat kedua terendah setelah pilar kesehatan.
"Kondisi ini mencerminkan belum optimalnya kontribusi pasar tenaga kerja bagi daya saing
Indonesia. Selaras dengan pilar pasar tenaga kerja, pilar kemampuan sumber daya manusia
(SDM) Indonesia juga mengalami penurunan tiga peringkat, dari peringkat 62 menjadi 65," ujar
Sanggam dalam rilis yang diterima Republika.co.id.
Dalam Global Inovation Index (GII) 2020 Indonesia menempati peringkat 85 dari 131 negara.
Peringkat ini tidak mengalami perubahan sejak tahun 2018. Dari tujuh pilar dalam penghitungan
GII 2020, pilar Kemutakhiran Pasar Indonesia memiliki capaian peringkat tertinggi (peringkat
62). Sementara itu, pilar dengan capaian peringkat terendah ditempati oleh pilar Kemutakhiran
Bisnis (peringkat 114). Dalam pilar Kemutakhiran Bisnis, sub pilar dengan capaian peringkat
terendah adalah Pendidikan Tenaga Kerja, yaitu peringkat 125.
Begitu pula dari sisi implementasi digital, IMD World Digital Competitiveness Ranking 2020
mencatat daya saing Indonesia menempati peringkat 56 dari 63 negara. "Peringkat Indonesia
tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, masih termasuk dalam 10 negara
dengan peringkat terendah," ujarnya.
Dari tiga faktor pembentuk daya saing digital, faktor kesiapan masa depan mengalami
peningkatan capaian peringkat dari tahun sebelumnya, yaitu dari peringkat 58 menjadi 48.
Sementara itu, faktor pengetahuan dan faktor teknologi mengalami penurunan peringkat dari
tahun sebelumnya. "Kondisi ini membutuhkan perhatian serius bangsa Indonesia untuk
meningkatkan daya saing digitalnya, utamanya dalam era revolusi industri 4.0," tuturnya.
Menurut Sanggam, deindustrialisasi dini yang tidak diharapkan telah terjadi di Indonesia. Industri
manufaktur tidak lagi mampu menjadi penggerak laju pertumbuhan ekonomi. Selama 10 tahun
terakhir, laju pertumbuhan industri manufaktur Indonesia dibawah laju pertumbuhan ekonomi.
Kontribusinya terhadap PDB terus menurun. Pada tahun 2008 kontribusi industri manufaktur
terhadap PDB sebesar 27,9 persen, pada kuartal kedua 2019 menurun drastis hanya 20 persen.
34

