Page 66 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 66

BANJIR BAJA IMPOR, 100 RIBU PEKERJA INDUSTRI BAJA TERANCAM PHK

              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, banjirnya baja
              murah  dari  China  ke  Indonesia  akan  berdampak  terhadap  industri  baja  dalam  negeri  kalah
              bersaing dan terancam gulung tikar.

              Terlebih  di  saat  pandemi  Covid-19,  tentu  saja  ancaman  pemutusan  hubungan  kerja  (  PHK)
              massal akan membayangi pekerja di industri baja. Dia menyebutkan, sebanyak 100.000 pekerja
              industri baja ini tersebar di berbagai perusahaan seperti Krakatau Steel, Gunung Raja Paksi,
              Ispatindo, dan Master Steel.

              "Baja impor terutama dari China dijual sangat murah di Indonesia. Jika dibiarkan, industri baja
              nasional akan bangkrut dan 100.000 karyawan terancam PHK massal," jelasnya dalam jumpa
              pers secara virtual di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

              Untuk menghindari PHK massal itulah, KSPI berharap agar Kementerian Perdagangan, dalam hal
              ini  Komite  Pengamanan  Perdagangan  Indonesia  (KPPI)  melanjutkan  perlindungan  safeguard
              untuk produk I-H section.

              "Safeguard sangat penting guna melindungi produk dalam negeri dari maraknya produk impor
              murah," imbuhnya.

              Di  sisi  lain,  lanjutnya,  ketika  safeguard  kepada  pabrik  baja  nasional  tidak  diperpanjang,
              dikhawatirkan perusahaan tidak bisa bersaing dengan produk impor murah. Akibatnya, Industri
              akan menutup beberapa unit usaha sehingga menyebabkan PHK massal. "Makanya, semua pihak
              harus membela industri dalam negeri," urainya.

              Untuk itu, lanjutnya, KSPI meminta Kementerian Perdagangan untuk bisa memberikan diskresi.
              Dalam hal ini kepada KPPI agar mengambil sikap untuk meneruskan aplikasi safeguard I - H
              section, sebagai upaya perlindungan terhadap industri dalam negeri.

              Said  yakin,  Pemerintah  akan  berpihak  pada  industri  baja  dalam  negeri,  termasuk  untuk
              menyelamatkan sekitar 100 ribu karyawan. Terlebih, ujarnya, bahwa saat ini banyak regulasi
              yang dibuat sebagai relaksasi, khususnya saat pandemi Covid-19.

              "Pemerintah harus berani mengambil sikap dan terobosan untuk membantu agar industri dalam
              negeri tetap bertahan. Jangan lupa, di balik industri terhadap tenaga kerja yang akan menjerit
              jika di-PHK," lanjut dia.
              Dalam sistem perdagangan internasional, perlindungan industri dalam negeri seperti Safeguard
              dan Anti Dumping masih tetap dibutuhkan. Melalui perlindungan tersebut, industri baja dalam
              negeri  bisa  tumbuh  dan  bersaing  dengan  baik.  "Pemerintah  Malaysia,  Vietnam  dam  bahkan
              Amerika Serikat juga melindungi industri dalam negeri mereka," kata Said.
              Menurut  Said,  perlindungan  juga  pantas  diberikan  karena  murahnya  baja  impor  dari  Cina
              disebabkan  unfair  trade.  Dalam  hal  ini  Pemerintah  Cina  memberikan  subsidi  secara  besar-
              besaran  terhadap  industri  baja  Negeri  Tirai  Bambu  tersebut.  Bahkan,  Pemerintah  Cina  juga
              memberikan subsidi untuk kebijakan lingkungan. "Padahal di Indonesia, kebijakan lingkungan
              termasuk slag B-3 dan scrap tanpa impunitas harus ditanggung industri baja sehingga menjadi
              beban finansial industri dan meningkatkan biaya produksi," jelasnya.

              Mengenai maraknya baja impor, Said mengutip data BPS. Menurutnya, hingga akhir tahun 2019
              besi dan baja menempati posisi ketiga komoditas impor nonmigas yang masuk ke Indonesia.
              Nilainya mencapai USD 7,63 Miliar atau senilai Rp106,8 Triliun.



                                                           65
   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71