Page 81 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JANUARI 2021
P. 81

HATI-HATI ADA JARINGAN PERDAGANGAN ORANG, INI MODUS MEREKA

              Polres  Majalengka  berhasil  mengungkap  praktik  tindak  pidana  perdagangan  orang  dengan
              modus pengiriman tenaga kerja ( TKI ). Tiga warga Indramayu, Jawa Barat, yakni AM, AS, dan
              S telah ditangkap dan langsung dijadikan tersangka.

              Tiga orang tersebut ditangkap karena terbukti hendak memberangkatkan seorang perempuan
              berinisial IN (20) yang merupakan warga Majalengka, Jawa Barat, ke Arab Saudi secara ilegal.

              Wakil Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Barat Juwarih memberikan apresiasi
              terhadap kepolisian atas pengungkapan tindak pidana perdagangan orang (TPP0) di Majalengka.

              Juwarih membeberkan TPPO di Majalengka memiliki jaringan, bahkan sampai ke pusat. Dalam
              aksinya, dokumen calon TKI sering dipalsukan oleh agen ketika mereka akan berangkat.

              Korban juga diiming-imingi gaji tinggi "Salah satunya itu [pemalsuan dokumen]. Kemudian selain
              itu juga iming-iming gaji besar ketika calon TKI tersebut berangkat ke luar negeri di negara
              tertentu. Itu juga bisa," papar Juwarih kepada Kompas.com.

              Karena memiliki jaringan hingga ke pusat, Juwrih berharap agar kepolisan bisa mengungkap
              tindak pidana perdagangan orang di Majalengka sampai ke akar-akarnya.

              "Saya apresiasi kepada pihak kepolisian Majalengka yang menangkap tiga tersangka tersebut.
              TPPO  di  Majalengka  ini  jaringannya  sampai  ke  pusat,  sehingga  pihak  kepolisian  harus
              mengungkap sampai ke akar-akarnya," ujar Juwarih.

              Dalam pengungkapan praktik TPPO di Majalengka, Kasat Reskrim Polres Majalengka AKP Siswo
              DC Tarigan menerangkan sebelum ke Arab Saudi, korban diberangkatkan ke Malaysia.

              Namun, karena pandemi Covid-19, korban akhirnya dipulangkan dan batal berangkat ke negara
              tujuannya itu.

              "Korban gagal berangkat [ke Malaysia] karena pandemi ini. Akhirnya pada bulan November,
              korban dipanggil lagi, namun diberangkatkan ke Arab Saudi, bukan ke Malaysia. Di Saudi, korban
              hendak diberangkatkan dengan dokumen palsu," terang Siswo, Rabu (20/1/2021).

              Pengungkapan praktik TPPO ini bermula dari laporan pihak keluarga korban ke kepolisian pada
              27  Desember  2020.  Selanjutnya,  kepolisian  melakukan  pendalaman,  hingga  kemudian
              menangkap ketiga tersangka.

              Salah satu tersangka, kata Siswo, bahkan sempat mengunjungi rumah korban untuk meyakinkan
              pihak keluarga agar korban berangkat ke Arab Saudi.

              "Namun, ketika di penampungan, korban malah dipekerjakan masak-masak untuk jualan nasi di
              warung. Di warung tersebut korban mendengar hendak diberangkatkan ke Arab Saudi dengan
              dokumen dipalsukan, sehingga korban melaporkan kepada keluarga," jelas Siswo.

              Ketiga tersangka itu terancam Undang-undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan
              Undang-undang Perlindungan Pekerja Migran, dengan ancaman hukuman maksimal penjara 15
              tahun.
              Penulis: Kotributor Majalengka, Mohamad Umar Alwi | Editor: Aprillia Ika.







                                                           80
   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86