Page 14 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 MARET 2021
P. 14

KEJARI PURWOKERTO SELIDIKI DUGAAN KORUPSI PROGRAM JPS KEMNAKER

              KEJAKSAAN Negeri Purwokerto, Jawa Tengah menyelidiki kasus dugaan korupsi program Jaring
              Pengamanan Sosial (JPS) dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia di
              wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

              "Hari ini (9/3), kami melakukan pengamanan atau penggeledahan untuk menemukan sebagian
              barang bukti. Dan dari rumah salah satu (saksi) yang kami periksa hari ini, berhasil kami sita
              uang  sebesar  Rp470  juta,"  kata  Kepala  Kejari  Purwokerto  Sunarwan  saat  konferensi  pers  di
              Kantor Kejari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (9/3) malam.

              Selain itu, kata dia, pihaknya juga menyita 38 stempel kelompok dari total 48 kelompok, satu
              unit komputer, beberapa dokumen perjanjian kerja sama antara 48 kelompok dan Direktorat
              Pengembangan dan Perluasan Kerja pada Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga
              Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Ditjen Bina Penta dan PKK) Kemnaker RI.

              Menurut dia, total bantuan dari Ditjen Bina Penta dan PKK Kemnaker RI untuk 48 kelompok itu
              mencapai  Rp1,920  miliar  yang  ditransfer  ke  rekening  Bank  Rakyat  Indonesia  (BRI)  milik
              kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan Rp40 juta.

              "Saat masing-masing perwakilan kelompok menarik uang tersebut, seseorang telah menunggu
              di luar kantor BRI. Dan ketika kelompok itu keluar dari bank, orang tersebut meminta seluruh
              uang itu, sehingga total ada Rp1,920 miliar," katanya.

              Menurut dia, pencairan dana program JPS dari Kemnaker tersebut pada 1 Desember 2020. Ia
              mengatakan bantuan program JPS dari Kemnaker tersebut sebenarnya ditujukan untuk kegiatan
              pemberdayaan masyarakat akibat Covid-19, baik yang menjadi korban pemutusan hubungan
              kerja (PHK) maupun menganggur.

              Dalam  hal  ini,  kata  dia,  Ditjen  Binapenta  dan  PKK  Kemnaker  memberikan  bantuan  kepada
              kelompok masyarakat di desa dan masing-masing kelompok beranggotakan 20 orang.

              "Tujuannya adalah memberdayakan kelompok tersebut. Biar kelompok di desa bisa berusaha,
              bisa mendirikan usaha yang mandiri, tetapi ternyata dalam praktiknya, uang untuk 48 kelompok
              ini diambil oleh satu orang dan mungkin akan berkembang nantinya. Sisa uang itu yang bisa
              kami ketemukan di sini," katanya.

              Sunarwan  mengatakan  dalam  penyelidikan  kasus  dugaan  korupsi  program  JPS  Kemnaker
              tersebut, pihaknya belum menetapkan tersangka. Petugas baru memeriksa sejumlah saksi.

              "Setelah alat bukti cukup, kami akan ekspos untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab
              dalam  kasus  ini.  Nantinya  akan  dijerat  Pasal  2  dan  Pasal  3  Undang-Undang  Tindak  Pidana
              Korupsi," katanya. (Ant/OL-15).



















                                                           13
   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19