Page 1029 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1029

Menurutnya, kenaikan upah minimum tiap tahun biasanya telah menjadi sumber perselisihan
              antara Pemerintah, Apindo dan SP/SB, yang biasanya berujung di Pengadilan Tata Usaha Negara
              (TUN), dan tahun ini sepertinya akan terulang lagi.

              "Dipastikan SE Menaker tahun ini akan diprotes oleh kalangan SP/SB. Kalangan SP/SB menilai
              SE ini akan mempengaruhi para Gubernur untuk tidak menaikkan upah minimum tahun 2021,"
              ujarnya.

              Tentunya SP/SB harus mempengaruhi para gubernur untuk tidak mengikuti SE Menaker tersebut
              dan meyakinkan Gubernur untuk tetap menaikkan upah minimum dalam persentase yang wajar
              dan bijak, yang bisa mendukung daya beli pekerja dan kelangsungan usaha.

              "Saya menilai permintaan Menaker untuk tidak menaikkan upah minimum di 2021 dan adanya
              usulan SP yang meminta kenaikan upah minimum di 2021 sebesar 8 persen adalah tidak tepat.
              Harus dicari solusi kenaikan UM 2021 dengan tetap mempertimbangkan kesejahteraan pekerja
              dan kelangsungan usaha," ungkapnya.
              Dimana kenaikan upah minimum dengan mempertimbangkan inflasi YoY akan memiliki dampak
              ikutan  yang  positif.  Dengan  adanya  kenaikan  upah  minimum  maka  daya  beli  pekerja  tidak
              tergerus  oleh  inflasi  sehingga  pekerja  dan  keluarganya  bisa  mempertahankan  tingkat
              konsumsinya. Sehingga tingkat konsumsi yang tidak turun tentunya akan mendukung tingkat
              konsumsi  agregat,  maka  mendukung  pertumbuhan  ekonomi  Indonesia.  Lantaran  konsumsi
              agregat mendukung 55 - 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

              "Semoga kenaikan UMP 2021 yang akan ditetapkan tanggal 1 November 2020 ini di kisaran 1,5
              persen  -  2  persen  bisa  diterima  semua  pihak,  sehingga  kesejahteraan  pekerja  terjaga  dan
              kelangsungan usaha terjamin," pungkasnya.

              Pemerintah  menetapkan  upah  minimum  tahun 2021  (UMP  2021)  tidak mengalami  kenaikan.
              Keputusan ini diambil dalam Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan Nomor 11/HK04/X/2020
              tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19.

              Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah pun meminta kepada para gubernur di seluruh
              Indonesia untuk melakukan penyesuaian penetapan nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun
              depan, yang secara besaran sama seperti di 2020. Dengan kata lain, tidak ada kenaikan UMP
              2021.

              Seluruh  kepala  daerah  wajib  mengumumkan  UMP  2021  pada  Sabtu,  31  Oktober  2020
              mendatang.

              Adapun pada penetapan UMP 2020, nilai upah minimum mengalami kenaikan 8,51 persen dari
              besaran di 2019. Keputusan ini diambil dengan mengacu pada besaran inflasi dan pertumbuhan
              nasional pada tahun tersebut.

              Besaran inflasi nasional yang dimaksud adalah 3,39 persen, dan pertumbuhan ekonomi nasional
              sebesar 5,12 persen.

              Dari perhitungan tersebut, rata-rata UMP 2020 untuk 34 provinsi yakni Rp 2,7 juta per bulan.
              DKI Jakarta jadi provinsi dengan nilai UMP 2020 terbesar hingga di atas Rp 4 juta per bulan.

              Sementara  terdapat  5  provinsi  dengan  UMP  di  bawah  Rp  2  juta  per  bulan.  Sebanyak  4  di
              antaranya merupakan provinsi yang berada di Pulau Jawa.
              Jika ketetapan tersebut tidak terjadi perubahan, berikut daftar 5 provinsi dengan nilai UMP 2021
              terendah: 1. DIY Rp 1.704.607 2. Jawa Tengah Rp 1.742.015 3. Jawa Timur Rp 1.768.777 4.
              Jawa Barat Rp 1.810.350 5. NTT Rp 1.945.902.

                                                          1028
   1024   1025   1026   1027   1028   1029   1030   1031   1032   1033   1034